Terancam Delisting, Keramika Indonesia (KIAS) Bakal Divestasi Saham

2026-02-03 16:54:40
Terancam Delisting, Keramika Indonesia (KIAS) Bakal Divestasi Saham
JAKARTA, - PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (KIAS) membeberkan langkah pemulihan bisnis secara menyeluruh untuk bisa keluar dari status suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham yang diberlakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 31 Juli 2025.Mengutip keterbukaan informasi BEI, Selasa.m , emiten di bidang keramik ini menyiapkan sejumlah opsi strategis baik divestasi saham, program kepemilikan saham karyawan, hingga penambahan modal, untuk memenuhi ketentuan free float yang menjadi akar persoalan suspensi.Sanksi suspensi perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai diberikan BEI lantaran KIAS belum memenuhi ketentuan jumlah saham free float, sebagaimana diatur dalam Peraturan BEI Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat.Baca juga: Daftar 12 Saham yang Delisting dari Bursa Hari IniBerdasarkan beleid tersebut, emiten wajib memiliki saham free float sedikitnya 50 juta saham atau setara 7,5 persen dari total saham tercatat, serta dimiliki oleh minimal 300 pemegang saham dengan Single Investor Identification (SID) alias nomor tunggal identitas pemodal.Namun hingga akhir November 2025, saham free float KIAS baru mencapai 891,06 juta saham atau sekitar 5,97 persen dari total saham tercatat, dengan jumlah pemegang saham sebanyak 3.986 SID.“Sebagai informasi pada akhir bulan November 2025 jumlah saham free float Perseroan adalah sebesar 891.064.667 saham yang mewakili sebanyak 5,97 persen dari jumlah saham tercatat, dengan jumlah pemegang saham sebanyak 3,986 nasabah pemilik SID,” ujar Direktur KIAS, Susalak Khiew-Orn, dalam keterbukaan informasi BEI.Kondisi inilah yang membuat saham KIA dihentikan sementara perdagangannya di pasar reguler dan pasar tunai. Untuk merespons hal tersebut, manajemen menyusun rencana pemulihan kondisi yang saat ini masih berada pada tahap kajian komprehensif.Susalak Khiew-Orn mengungkapkan terdapat tiga opsi utama yang tengah dikaji untuk memenuhi ketentuan free float. Pertama, penjualan saham atau divestasi kepada pihak ketiga yang memenuhi kriteria kepemilikan saham free float, yang direncanakan melalui mekanisme jual beli saham di pasar negosiasi.“Manajemen melakukan penelaahan atau kajian untuk dapat melakukan divestasi saham kepada pihak ketiga yang memenuhi kriteria untuk memiliki saham free float. Adapun cara divestasi saham dimaksud akan dilakukan melalui proses jual beli saham pada pasar negosiasi,” paparnya.Baca juga: Saham Sritex Disuspensi Sejak 2021, OJK Sebut SRIL Masuk Kriteria DelistingKedua, pelaksanaan program kepemilikan saham karyawan dan manajemen (Employee Share Ownership Program/ESOP). Ketiga, penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau tanpa HMETD dengan mempertimbangkan skema yang menarik bagi investor.“Perseroan akan senantiasa memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku terutama di bidang pasar modal dalam rangka melaksanakan penambahan modal ini,” lanjut Susalak Khiew-Orn.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-02-03 16:43