Bocoran Erick Thohir soal 5 Nama Calon Pelatih Timnas Indonesia, Baru Cita-cita

2026-02-04 09:51:45
Bocoran Erick Thohir soal 5 Nama Calon Pelatih Timnas Indonesia, Baru Cita-cita
- Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, membahas perkembangan terbaru mengenai pencarian pelatih untuk tim nasional Indonesia.Saat ini, timnas Indonesia berada dalam situasi tanpa pelatih setelah mengakhiri kontrak dengan Patrick Kluivert.Akibatnya, timnas tidak akan berpartisipasi dalam FIFA Matchday bulan November mendatang.Meski demikian, pencarian pelatih terus berlangsung karena tim harus mulai meraih poin FIFA pada tahun depan.Baca juga: Erick Thohir Sebut Sudah Ada 5 Nama Calon Pelatih Timnas IndonesiaPemilihan pelatih yang tepat menjadi kunci bagi skuad Garuda agar kembali kompetitif menjelang Piala Asia 2027 dan Kualifikasi Piala Dunia 2030.Erick Thohir menjelaskan, pada tahun depan, fokus mereka adalah pada agenda FIFA Matchday.Sejauh ini, sudah ada lima nama yang dianggap berpeluang untuk menjadi pelatih timnas Indonesia.Proses diskusi mengenai hal ini masih berlangsung, karena menemukan sosok yang tepat untuk skuad Garuda bukanlah hal yang mudah.Baca juga: Respons Presiden Prabowo Usai Erick Thohir Minta Maaf Setelah Gagal ke Piala Dunia 2026Banyak komunikasi yang perlu dilakukan oleh PSSI untuk mencapai keputusan yang tepat."Kita ada FIFA Matchday November tetapi yang besar Maret, Juni, September, Oktober, dan November," ungkapnya."Kita kembali menjaring nama lebih banyak, sudah ada lima nama," tambahnya."Kalau sudah ada lima nama ini kan kita harus coba diskusi dengan banyak pihak termasuk dari PSSI dan stakeholder pemerintah," kata Erick Thohir seperti dilansir dari kanal YouTube Bukan Kaleng Kaleng.Sosok yang juga menjabat sebagai Menpora melanjutkan bahwa lima nama tersebut belum pasti bersedia untuk melatih timnas.Ini masih sebatas rencana, dan tentu saja terbuka kemungkinan munculnya nama-nama baru dalam daftar tersebut./Firzie A. Idris Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, berbicara depan media di acara konferensi pers di SUGBK, Jakarta, pada Jumat .Sebelumnya, terdapat 10 pelatih yang masuk dalam daftar, tetapi setengah dari mereka tidak bersedia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 08:51