Google Rilis SIMA 2, AI Baru yang Bisa Jadi Fondasi Robot Serba Bisa di Masa Depan

2026-02-03 02:28:59
Google Rilis SIMA 2, AI Baru yang Bisa Jadi Fondasi Robot Serba Bisa di Masa Depan
 - Google DeepMind baru saja memperkenalkan agen AI terbaru bernama SIMA 2 (Scalable Instructable Multiworld Agent 2) yang mampu bermain dan menavigasi berbagai video game 3D, termasuk judul seperti No Man’s Sky, Valheim, dan Goat Simulator 3.Sistem ini bukan sekadar mengikuti instruksi, tetapi dapat memahami tujuan pengguna, melakukan penalaran kompleks, dan menjalankan tindakan dalam lingkungan virtual yang belum pernah dijumpainya sebelumnya.Diluncurkan sebagai research preview untuk sejumlah akademisi dan pengembang, SIMA 2 menggabungkan model bahasa besar Gemini dari Google LLC.Dengan demikian, agen AI tersebut tidak hanya mampu mengeksekusi instruksi melainkan juga menyusun strategi berdasarkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap lingkungan game.Baca juga: Robot Humanoid Booming di China, Howard Huang Jadi Miliarder DuniaMenurut DeepMind, game-game virtual tersebut dipakai sebagai “arena latihan” agar agen dapat akhirnya diterapkan di dunia nyata, misalnya robot umum atau sistem otonom multi-tugas.Pengembangan SIMA 2 dianggap sebagai langkah penting dalam persaingan menuju Artificial General Intelligence (AGI), dimana AI mampu menangani ragam tugas ala manusia dalam lingkungan yang dinamis.“Kami memperkirakan teknologi ini akan memainkan peran kritis saat kami menuju AGI, dan agen akan memainkan peran yang lebih besar di dunia,” tulis DeepMind dilansir KompasTekno dari The Verge.DeepMind menyebut bahwa kemampuan agen untuk beradaptasi pada game yang belum dilatih sebelumnya merupakan “fundamental” menuju robot umum yang dapat beroperasi di dunia fisik maupun digital.Baca juga: Robot Humanoid AI Ngamuk saat Uji Coba, Teknisi Nyaris TerlukaMeski demikian, DeepMind menegaskan bahwa tujuan utama SIMA 2 saat ini bukan produk konsumen atau pembantu gamer.Fungsinya lebih sebagai eksperimen riset untuk menguji batas kemampuan agen pembelajaran umum dalam situasi baru dan tak terduga. Ketersediaan publik juga masih terbatas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 02:04