Dusun Terisolasi, Warga Manggarai Barat Gotong Ibu Hamil Sejauh 5 Km dan Seberangi Sungai

2026-01-16 17:19:52
Dusun Terisolasi, Warga Manggarai Barat Gotong Ibu Hamil Sejauh 5 Km dan Seberangi Sungai
LABUAN BAJO - Seorang ibu hamil di Kampung Wae Tulu, Kelurahan Tange, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, harus ditandu menggunakan bambu untuk menuju puskesmas, pada Kamis .Warga harus menggotong sejauh 5 kilometer dan menyeberangi sungai dengan arus yang deras. Warga menganggap dusun tersebut seakan terisolasi tanpa infrastruktur yang memadahi.Perjuangan menggotong ibu hamil itu diunggah oleh warga bernama Ahmad Wahyudin di Facebook-nya, pada Kamis sore.Dalam unggahan itu, tampak sejumlah warga menggotong ibu hamil dengan menyeberangi arus deras.Saat dikonfirmasi, Ahmad mengungkapkan peristiwa ibu hamil digotong melewati arus sungai itu terjadi pada Kamis sore.Baca juga: Sebulan Pascabanjir, Masih Ada Daerah Terisolasi di Aceh UtaraIa menceritakan, bahwa ibu hamil itu mengalami pendarahan saat bekerja di kebun.“Itu ibu hamil yang alami pendarahan saat kerja di kebun. Kami gotong dari kebun ke kampung. Dari kampung terus ke kampung tetangga yang ada akses jalan raya,” ungkap Ahmad saat dikonfirmasi Kamis sore.Ia mengatakan, warga gotong royong untuk menyelamatkan ibu tersebut. Mereka harus menggotong sejauh 5 kilometer untuk sampai ke jalan raya.Tidak hanya itu, mereka harus menghadapi tantangan ketika menyeberangi sungai dengan lebar sekitar 120 meter.“Itu totalnya tadi kami gotong dia lima kilometer untuk sampai di jalan raya. Yang susahnya itu menyeberangi kali Wae Mese yang panjang bentangannya 120 meter. Kami bertaruh nyawa melawan arus sungai untuk menyelamatkan ibu hamil ini,” katanya.Baca juga: Ambil Sembako Tak Bisa Diwakilkan, Nenek Lumpuh di Makassar Digotong Warga Pakai BentorIa menyebut, di kampung Pandang, tetangga kampung Wae Tulu sudah standby ambulans.Sehingga pasien pendarahan tadi langsung diantar ke puskesmas, setelah melalui perjuangan turun gunung dan menyeberangi kali besar.Ahmad mengaku, peristiwa gotong orang sakit menggunakan bambu dan menyeberangi arus sungai bukan cerita baru bagi masyarakat dusun itu.Sebab, di sana memang tidak ada akses keluar masuk ke dusun tersebut. Dusun itu, lanjut dia, mungkin salah satu wilayah yang terisolasi di Manggarai Barat.“Ke sini tidak ada jalan. Apalagi jembatan. Kami di sini terisolasi betul. Sebenarnya kami tidak layak masuk di kelurahan, karena dari segi infrastruktur dasar, di sini belum ada sama sekali. Kalau wilayah kelurahan kan sebenarnya akses jalan dan jembatan sudah aman. Ini kan tidak,” ungkap dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-16 16:05