Video Preman Ancam Bakar Minimarket di Sumedang Viral, Pelaku Ditangkap

2026-02-04 18:06:55
Video Preman Ancam Bakar Minimarket di Sumedang Viral, Pelaku Ditangkap
SUMEDANG, - Polres Sumedang menangkap Yadi (43), seorang pria yang mengancam akan membakar sebuah minimarket di Jalan Raya Parakanmuncang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.Pelaku tidak hanya mengancam membakar, tetapi juga melakukan intimidasi terhadap karyawan minimarket di kawasan industri Sumedang bagian barat tersebut.Aksi premanisme yang dilakukan pelaku terekam dan menjadi viral di media sosial pada Selasa .Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Sumedang AKP Awang Munggardijaya menyatakan bahwa aksi tersebut meresahkan masyarakat sekitar.Baca juga: Ratusan Santri Ponpes di Sumedang Keracunan Usai Santap Nasi Kotak"Seperti terlihat dalam video yang viral itu, pelaku mendatangi minimarket, melakukan intimidasi dan mengancam akan membakar minimarket. Pelaku sudah diamankan jajaran personel Polsek Cimanggung," ujar Awang kepada Kompas.com di Sumedang, Selasa siang.Awang menuturkan bahwa pelaku telah diamankan tanpa perlawanan dan langsung dibawa ke Mapolsek Cimanggung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut."Kami akan bertindak tegas dan tidak akan menoleransi terhadap segala bentuk aksi premanisme yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat," tutur Awang.Baca juga: Tebing Setinggi 40 Meter di Cadas Pangeran Sumedang Longsor dan Tutup JalanPelaku saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mendalami motif perbuatannya dan memastikan unsur pidana yang dapat dikenakan."Kami mengimbau warga tetap waspada dan tidak ragu melapor jika menemukan tindakan serupa yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan lingkungan," kata Awang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 17:53