SEKERAK KIRI, – Hingga tiga pekan pascabanjir, aliran listrik di Sekerak Kiri, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, belum kembali menyala sejak bencana terjadi pada Rabu .Kondisi tersebut membuat warga yang berada di pengungsian dan tenda darurat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mengisi daya handphone, memasak nasi, menonton televisi, hingga menyalakan lampu pada malam hari.Sekretaris Desa Sekerak Kiri, Abdul Gofur, mengatakan warga terpaksa mengandalkan lampu minyak atau lilin setiap malam karena belum ada penerangan listrik.“Sampai hari ini belum ada penerangan. Warga kami pakai tisu campur minyak sayur atau lampu pakai minyak,” ujar Abdul Gofur usai menerima bantuan pembaca Kompas.com di Sekerak Kiri, Sabtu .Baca juga: Tiga Pekan Pascabanjir, Listrik dan Sinyal di Aceh Timur Masih SulitMenurut dia, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penerangan, seperti genset dan lampu tenaga surya.Selain itu, warga juga membutuhkan kelambu karena jumlah nyamuk meningkat drastis pascabanjir.“Kami butuh penerangan tapi yang perlu warga setelah banjir butuh kelambu karena nyamuk luar biasa, butuh selimut, alas tikar, bantal,” kata dia.Tim Kompas.com menyalurkan bantuan dari donasi pembaca Kompas.com kepada korban bencana Aceh Tamiang berupa genset, sembako, lampu solar cell, alat ibadah, buah-buahan, alas tikar, susu, pampers, hingga pakaian.“Terima kasih banyak dengan Kompas.com sudah memberikan kepada kami, ini sangat bermanfaat masyakarat kami,” ujar Abdul Gofur.Baca juga: Perjalanan Tim Kompas.com Salurkan Bantuan ke Pelosok Aceh Tamiang, Tembus Daerah TerisolasiHal senada disampaikan Kepala Desa Tanjung Mancang, Tengku Saipul Bahri. Ia menyebut warga di desanya juga sangat membutuhkan genset karena listrik masih padam sejak banjir.“Alhamdulillah ini sangat dibutuhkan seperti logistik, penerangan dan alat ibadah yang digunakan untuk salat sangat kami butuhkan,” kata Saipul.Selain listrik, Saipul mengungkapkan bahwa wilayahnya juga menghadapi krisis air bersih. Hingga tiga pekan pascabencana, pasokan air belum pulih dan pihak desa masih mencari donasi untuk pengeboran sumur.“Listrik belum merata, air sedang berusaha untuk donator pengeboran memang harga air dari Sibaulangit mahal Rp 2,8 juta satu tangki untuk satu dusun, ada lima dusun berarti lima tangki,” ucap dia.Warga Dusun Baru, Sekerak Kiri, Aris, mengaku terharu saat menerima bantuan genset dan lampu tenaga surya dari donasi pembaca Kompas.com. Pasalnya, listrik di wilayah tersebut masih padam hingga kini.“Alhamdulillah sangat terbantu, tadi ada penerangan terasa hampir tertegun, senang ada lampu tadi membawa kita semangat kembali,” kata Aris.Baca juga: Keluh Warga Aceh Tamiang: Kondisi Kami Masih Korban Bantu Korban
(prf/ega)
Nasib Korban Bencana Aceh Tamiang, 25 Hari Bertahan Hidup Tanpa Listrik
2026-01-12 04:59:47
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:06
| 2026-01-12 04:56
| 2026-01-12 04:45
| 2026-01-12 02:50










































