300 Bus AKAP-AKDP Dicek Jelang Nataru, Armada Tak Layak Dikeluarkan dari Terminal Sumenep

2026-01-12 18:17:55
300 Bus AKAP-AKDP Dicek Jelang Nataru, Armada Tak Layak Dikeluarkan dari Terminal Sumenep
SUMENEP, - Sebanyak 300 armada bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) dan Antar-Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang beroperasi di Terminal Wiraraja, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diperiksa kelayakannya menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan armada angkutan umum berada dalam kondisi aman dan siap untuk melayani lonjakan penumpang pada libur akhir tahun.Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Wiraraja, Handoko Imam Hanafi mengatakan, pemeriksaan tersebut merupakan langkah antisipasi guna menekan potensi kecelakaan lalu lintas.“Tujuan utamanya, untuk memastikan seluruh armada yang beroperasi benar-benar layak jalan dan aman bagi penumpang selama masa Nataru,” kata Imam kepada Kompas.com di Sumenep, Rabu .Baca juga: Libur Nataru, Pengendara Diminta Waspadai Aquaplaning Saat Sedang Hujan LebatImam menjelaskan, ramp check dilakukan bersama tim gabungan yang melibatkan berbagai pihak terkait.“Pemeriksaan kami lakukan bersama tim gabungan, mulai dari petugas terminal, kepolisian lalu lintas, hingga instansi lain yang berwenang,” tambahnya.Menurut dia, pemeriksaan armada tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga dilakukan secara rutin.“Secara berkala, setiap pekan, seluruh armada yang masuk terminal tetap kami lakukan ramp check,” tambahnya lagi.Baca juga: Libur Nataru, Pengendara Diminta Waspadai Aquaplaning Saat Sedang Hujan LebatDengan pemeriksaan rutin tersebut, pihak terminal dapat memantau kondisi armada sekaligus mendisiplinkan operator angkutan umum.Dalam pemeriksaan administrasi, petugas memfokuskan pada kelengkapan dokumen kendaraan, seperti Kartu Pengawasan (KPS) dan uji KIR.Sementara dari sisi teknis, pengecekan meliputi komponen utama kendaraan.“Yang kami periksa antara lain sistem rem, kondisi ban, suspensi, kaca, lampu utama, serta lampu sein kanan dan kiri,” kata Imam.Selain itu, kelengkapan keselamatan penumpang, seperti alat pemecah kaca, APAR, dan pintu darurat, juga menjadi perhatian petugas.Dari hasil pemeriksaan, masih ditemukan sejumlah pelanggaran teknis. Imam menyebutkan, kerusakan kaca depan menjadi temuan yang cukup sering.“Yang paling sering ditemukan adalah kaca depan retak. Jika kondisinya sudah parah, kami anjurkan segera diganti sebelum bus kembali beroperasi,” ungkapnya.Selain itu, kadang petugas juga menemukan armada dengan masa berlaku KIR yang sudah habis. Atas pelanggaran tersebut, petugas menerapkan tindakan tegas.“Ada armada yang kami rekomendasikan untuk tidak beroperasi, terutama jika KIR mati. Selain ditilang, bus kami keluarkan dari terminal dan harus berangkat kosong,” jelas Imam.“Temuan KIR mati ini kadang sebulan sekali masih ada saja,” jelas Imam lagi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 18:12