Cerita Zulhas soal Keterlibatan TNI-Polri dalam Swasembada Pangan: Ini Gotong Royong, Jadi Jangan Heran

2026-01-12 05:44:40
Cerita Zulhas soal Keterlibatan TNI-Polri dalam Swasembada Pangan: Ini Gotong Royong, Jadi Jangan Heran
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan TNI dan Polri dalam mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan. Hal itu disampaikan Zulhas saat mengikuti kegiatan penanaman dan panen jagung di daerah Panengahan, Lampung Selatan, Selasa .Di hadapan para Muspida dan perwakilan Duta Besar negara sahabat, Zulhas meminta para Dubes tidak heran apabila Polri dan TNI melakukan penanaman pohon maupun pertanian. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Polri dan TNI merupakan wujud gotong royong meningkatkan swasembada pangan."Kata orang Polisi kok disuruh tanam jagung, ya itulah Indonesia, gotong royong. Jadi dubes jangan heran, kalau di Indonesia ada polisi tanam jagung," jelas Zulhas.AdvertisementIa mengaku bersyukur Polri dan TNI bisa ikut membantu meningkatkan produksi kebutuhan pokok, salah satunya kebutuhan karbohidrat masyarakat. Bahkan, keberadaan TNI membantu dalam pertanian padi dan pengaturan bulog kepada petani dan masyarakat."Jadi ceritanya dulu Presiden perintah, harga gabah itu perintah Bapak Presiden, dulu Rp 5.500, kita naikkan Rp 6.000, kurang, naik Rp 6.500. Keluarlah Kepres perintah Presiden," terang Zulhas.Meskipun begitu, lanjut Zulhas, harga gabah di kalangan petani ternyata masih Rp 5.500 sampai Rp 6.000 per kilogram, hal ini dikarenakan banyak tengkulak yang merugikan petani. Atas hal itu, Pemerintah meminta TNI dan Polri untuk melakukan penindakan terhadap tengulak yang merugikan petani."Kalau ada petani yang terima harga gabah di bawah Rp6.500, lapor aja, itu tengkulak-tengkulak takut. Alhamdulillah sekarang petani padi sudah menerima harga gabah Rp6.500 paling murah," ucapnya.Zulhas bersyukur terdapat kenaikan hasil pertanian dalam mendukung swasembada pangan, yakni kenaikan produktifitas pertanian. Adapun kenaikan produksi pertanian berupa beras yang sebelumnya 30 juta ton, kini menjadi 34,7 juta ton."Jadi ada kenaikan sekitar 13 persen lebih, jadi penghasilan petani naik, produksi naik, harga juga naik," ungkap Zulhas. 


(prf/ega)