Belajar dari Aceh–Sumut dan Sumbar, Gubernur Sumsel Minta Mitigasi Bencana Diperketat

2026-02-03 06:04:51
Belajar dari Aceh–Sumut dan Sumbar, Gubernur Sumsel Minta Mitigasi Bencana Diperketat
PALEMBANG, - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru meminta seluruh daerah di 17 Kabupaten/kota di wilayahnya untuk waspada dan memitigasi bencana. Hal ini dilakukan menyusul terjadinya bencana alam yang terjadi di tiga provinsi di pulau Sumatera, yakni di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Peristiwa banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut dinilai menjadi peringatan penting agar Sumsel tidak lengah menghadapi puncak musim hujan.Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumatera Selatan 28 November 2025: Hujan Ringan Guyur Banyak Wilayah“Sumsel tidak boleh lengah. Saya keliling cek beberapa titik, alhamdulillah kondisi kita saat ini baik. Tapi kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” kata Herman Deru, Senin .Deru menegaskan bahwa bencana alam semakin sulit diprediksi.Sehingga langkah pencegahan perlu dilakukan lebih awal.Baca juga: BMKG: Puncak Musim Hujan di Sumatera Selatan Diprakirakan Desember 2025-Januari 2026Salah satu fokus utama adalah mengurangi faktor risiko melalui perbaikan dan perlindungan lingkungan.“Walaupun dari prediksi BMKG curah hujan cukup tinggi, kita tetap berkeyakinan air bisa dikanalisasi ke sungai hingga ke laut dengan baik. Tetapi kuncinya adalah kesiapsiagaan,” ujarnya.Pemprov Sumsel saat ini terus memperkuat upaya mitigasi melalui normalisasi sungai serta perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu sampai hilir.Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumatera Selatan Hari Ini: Hujan Ringan Terjadi di Kebanyakan DaerahDeru meminta pemerintah kabupaten/kota aktif berkoordinasi dan memastikan seluruh infrastruktur pendukung siap menghadapi ancaman banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya.“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Semua daerah harus terlibat. Pemkab dan pemkot punya peran besar dalam memastikan mitigasi berjalan,”ungkapnya.Tak hanya itu, Deru menyebut Sumsel telah menetapkan status siaga banjir dan mengumpulkan seluruh bupati dan wali kota di Ranau untuk menyamakan langkah menghadapi musim hujan.“Setiap kepala daerah sudah kita kumpulkan, semuanya bertekad untuk siaga menghadapi ancaman hidrometeorologi,” jelasnya.Sejauh ini, kondisi hutan dan mangrove di Sumsel relatif terjaga.Dari potensi 200 ribu hektare kawasan mangrove yang perlu direhabilitasi, sekitar 43 ribu hektare telah tumbuh kembali sesuai penilaian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.“Upaya menjaga lingkungan ini bagian dari mitigasi jangka panjang. Kita berharap kerja keras ini bisa mengurangi risiko bencana,”katanya. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-03 04:55