Megan Domani Lebam Gara-gara Jambak-jambakan dengan Yasmin Napper

2026-02-03 19:06:58
Megan Domani Lebam Gara-gara Jambak-jambakan dengan Yasmin Napper
JAKARTA, - Aktris peran Megan Domani mengalami luka lebam di pipi gara-gara adegan jambak-jambakan dengan Yasmin Napper dalam film Musuh Dalam Selimut.Menurut Megan, adegan itu menjadi salah satu yang paling lucu di lokasi syuting."Sebenarnya di scene itu ada kejadian lucu ya behind the scenes-nya. Jadi memang ceritanya kan Suzy sama Gadis jambak-jambakan," kata Megan dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Senin .Baca juga: Perankan Istri Kedua Gunawan Sudrajat, Megan Domani: Bukan Orang Ketiga pada UmumnyaAdegan yang sudah didesain seaman dan senyaman itu akhirnya berubah menjadi intens karena Yasmin Napper terbawa emosi.Alhasil, pipi Megan Domani terkena hingga mengalami luka lebam."Terus mungkin Gadis kebawa emosi. Dia tidak sadar kalau dia ngenain muka aku beneran," kenang Megan.Setelah adegan itu, Megan Domani pun terpaksa harus beristirahat karena luka lebamnya tak bisa ditutupi oleh riasan (make-up)."Habis itu aku syuting dua sampai tiga hari pipi aku biru. Sampe bengkak sampe harus berhenti dulu sebentar karena emang bener-bener langsung biru gitu," jelasnya.Baca juga: Bangun Chemistry, Megan Domani dan Darius Sinathrya Ubah Skrip Bareng untuk Sugar DaddyMeskipun demikian, Megan Domani tidak mempermasalahkan pipinya kepada Yasmin Napper.Sebagai aktor, Megan Domani sadar bahwa Yasmin Napper benar-benar terbawa emosi ke dalam tokoh Gadis."Tapi aku senang juga di satu sisi artinya memang Yasmin bener-bener in character banget gitu," kata Megan.Sementara Yasmin Napper sendiri mengatakan sudah meminta maaf secara langsung sejak adegan itu."Tapi aku udah minta maaf. Megan nggak benci aku," ucap Yasmin.Baca juga: Algrafi Banyak Dibaca di Wattpad, Megan Domani Tak Terbebani Main FilmnyaMusuh Dalam Selimut bercerita tentang pasangan Gadis dan Dika yang hubungan rumah tangganya terusik oleh kehadiran Suzy.Film terbaru Hadrah Daeng Ratu itu menampilkan Yasmin Napper, Arbani Yasiz, dan Megan Domani sebagai pemeran utamanya.Musuh Dalam Selimut akan tayang di bioskop pada 8 Januari 2026.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 18:56