PALANGKA RAYA, - Rektor Universitas Palangka Raya (UPR), Profesor Salampak, mengungkapkan bahwa hanya 23 persen lulusan SMA sederajat di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.“Lulusan SMA kita itu hanya 23 persen yang masuk ke perguruan tinggi, 77 persennya ke mana?” ujar Salampak saat membuka kuliah umum di Aula Jayang Tingang, Lantai II Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Rabu .Salampak menjelaskan bahwa rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) lulusan SLTA untuk masuk perguruan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Provinsi Kalteng.Baca juga: Gaji Orangtua Maksimal Rp 4 Juta, Bisa Daftar KIP Kuliah 2026Ia bersyukur Pemprov Kalteng telah menggagas sejumlah program yang mendorong siswa SMA melanjutkan studi, seperti Huma Betang Cerdas dan Satu Rumah Satu Sarjana.“Ada program Huma Betang Cerdas, kemudian program 1 Rumah 1 Sarjana. Ini penting untuk meningkatkan APK masuk perguruan tinggi di Kalteng,” tuturnya.Menurut Salampak, program-program tersebut merupakan langkah penting meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal, khususnya bagi pemuda di daerah pedalaman. Beasiswa kuliah bagi anak-anak pelosok dinilai mampu mengurangi ketimpangan kualitas SDM antara wilayah perkotaan dan perdesaan.“Program-program itu penting untuk mengangkat kualitas SDM, khususnya bagi masyarakat Dayak dan anak-anak dari daerah terluar atau pedalaman,” ujarnya.Salampak menambahkan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) RI meminta UPR menerima mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) minimal 20 persen.“Kami sudah berkoordinasi dengan kepala dinas pendidikan agar bagaimana menjaring anak-anak kita sehingga bisa masuk seleksi perguruan tinggi,” tuturnya.Baca juga: Beasiswa S2 ke Denmark Tanpa Syarat Batas Usia, Bisa Kuliah di Kampus TerbaikProgram Satu Keluarga Satu Sarjana merupakan salah satu program prioritas Pemprov Kalteng. Melalui program ini, pemerintah menyalurkan anggaran ke kampus-kampus lokal untuk menggratiskan biaya kuliah mahasiswa kurang mampu.Program tersebut bertujuan menekan angka putus sekolah, terutama bagi pemuda pedalaman, agar mereka memiliki akses pendidikan yang merata dari sekolah hingga perguruan tinggi.Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menjelaskan bahwa Program Satu Rumah Satu Sarjana bertujuan memberantas keterisolasian masyarakat desa terhadap pendidikan berkualitas. Menurutnya, wilayah pedalaman masih menghadapi kemiskinan struktural.“Kami ingin pendidikan terakses dari pedalaman sampai perkotaan. Kami tidak ingin meninggalkan pedalaman, karena di situ masih ada kebodohan, keterisolasian, dan kemiskinan,” ungkap Agustiar.Baca juga: Pemprov Kalteng Luncurkan Program Satu Rumah Satu Sarjana untuk Warga PelosokIa berkomitmen untuk memulai pembangunan dari desa dalam lima tahun ke depan, kemudian ke wilayah perkotaan, terutama pada sektor pendidikan sebagai cara memutus rantai kemiskinan.“Di sektor pendidikan ini, kami tidak ingin hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga iman dan takwa. Maka kami berikan insentif bagi pengajar keagamaan, dari ustaz hingga pendeta,” ujarnya.
(prf/ega)
Minat Kuliah Lulusan SMA di Kalteng Rendah, Hanya 23 Persen yang Lanjut ke Perguruan Tinggi
2026-01-12 05:29:09
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:05
| 2026-01-12 04:53
| 2026-01-12 04:07
| 2026-01-12 03:55
| 2026-01-12 03:07










































