Dikira Bom, Ledakan Gas Melon Gegerkan Warga Makassar, Gegana Sampai Turun Tangan

2026-01-13 06:26:13
Dikira Bom, Ledakan Gas Melon Gegerkan Warga Makassar, Gegana Sampai Turun Tangan
MAKASSAR, - Ledakan yang diduga berasal dari kebocoran tabung gas elpiji 3 kilogram menggegerkan warga di sekitar Jalan Sunu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis siang.Kerasnya suara ledakan dari dapur sebuah warung kopi (warkop) sekitar pukul 14.00 Wita membuat warga panik.Sebagian warga bahkan mengira ledakan tersebut berasal dari bom.Kepanikan warga membuat aparat kepolisian langsung mendatangi lokasi kejadian. Tak lama kemudian, personel Detasemen Gegana Satbrimob Polda Sulsel turut diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan.“Ledakan diduga itu adalah tabung gas, di situ juga warkop. Jadi anggota ke sana, bersama anggota Gegana juga melakukan pengecekan,” ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana saat dikonfirmasi, Kamis malam.Baca juga: Dikira Bom, Koper Tak Bertuan di Bali Ternyata Isinya Mainan, Gegana Turun TanganArya menegaskan, hasil olah tempat kejadian perkara tidak menemukan indikasi adanya bahan peledak.“Saat ini, alhamdulillah tidak ditemukan bahan peledak, kalau prosesnya sampai jadi ledakan (tabung gas), masih dalam penyelidikan,” kata dia.Dengan hasil tersebut, polisi memastikan ledakan bukan berasal dari aksi teror, melainkan diduga kuat akibat kebocoran tabung gas elpiji.Dalam peristiwa itu, polisi memastikan tidak ada korban jiwa. Saat ledakan terjadi, kondisi warkop dilaporkan sedang sepi pengunjung.“Alhamdulillah juga tidak ada korban, barang rusak hanya yang ada di sekitar tempat gas tersebut,” imbuh Arya.Baca juga: Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading: Tim Gegana Sisir Area SekolahMeski begitu, getaran ledakan menyebabkan sejumlah kaca warkop pecah dan beberapa barang di sekitar dapur mengalami kerusakan.Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti tabung gas tersebut meledak.“Ini kan bukan pidana ya, dan tidak juga menimbulkan korban dan kerusakan lain. Jadi sementara hanya menanyai saksi-saksi yang ada di lapangan,” tutup Arya. 


(prf/ega)