Cerita dari Rumah Singgah Khusus Transpuan: Tempat Mereka Pulang

2026-01-12 10:14:06
Cerita dari Rumah Singgah Khusus Transpuan: Tempat Mereka Pulang
Jakarta Sebuah hunian kecil berdiri di tengah padatnya kota Depok, Jawa Barat. Dinding rumah ini bercerita, kisah seorang waria yang berpuluh tahun hidup di jalan. Terbuang dan terasingkan. Hingga akhirnya, hidupnya punya arti bagi sesamanya.Namanya Yulianus Rettoblaut. Lebih akrab disapa mami Yuli. Dia seorang transpuan. Usianya tak lagi muda. 67 tahun. Kerikil tajam dilalui Yuli membangun rumah singgah khusus waria. Mereka yang dikucilkan dari tatanan sosial.Berjalan beriringan dengan waktu. Sudah 21 tahun rumah ini memberikan ruang aman untuk para waria. Satu-satunya tempat yang menerima para lansia waria. Advertisement“Rumah singgah ini berdirinya itu sebenarnya dari 2004, tapi mulai dipublikasi ke publik itu tahun 2010,” tutur Yuli saat berbincang dengan akhir pekan lalu.Rumah singgah ini menjadi tempat berlindung untuk mereka dari gelapnya dunia memandang kehidupan para transpuan. Kerap dianggap sebelah mata membuat mereka seolah tak punya rumah untuk pulang.Stigma masyarakat menggerakkan hati Yuli untuk membantu teman-teman senasibnya. Ada 831 waria di Jabodetabek yang hidupnya belum layak. Yuli merelakan tempat tinggalnya menjadi rumah untuk mereka pulang. “Kita coba mengakomodir itu dengan membuat satu kegiatan bahwa bagaimana caranya coba saya menjadikan tempat ini rumah saya tinggal sendiri, tempat pribadi, sebagai shelter yang bisa menaungi mereka,” ceritanya.Getirnya perjalanan hidup sebagai seorang transpuan sudah dirasakan. Puluhan tahun hidup di jalan, Yuli menyimpan kisah kelam seorang waria yang tak banyak diketahui orang.


(prf/ega)