Konsumsi BBM Toyota Corolla Altis GR HEV Pemakaian di Dalam Kota

2026-02-05 05:54:51
Konsumsi BBM Toyota Corolla Altis GR HEV Pemakaian di Dalam Kota
JAKARTA, - Tren kendaraan elektrifikasi mulai bergerak naik, tak terkecuali segmen sedan. Salah satu model yang cukup menarik perhatian adalah Toyota Corolla Altis GR HEV.Kompas.com berkesempatan mencoba langsung sedan hybrid ini selama beberapa hari di Ibu Kota, menguji keiritan dari konsumsi BBM-nya ketika dihadapkan pada kondisi berkendara harian.Rute yang dilalui mencakup kemacetan padat khas Jakarta, hingga tol dalam kota yang lebih lancar. Total jarak tempuhnya mencapai 71,9 kilometer, cukup untuk menggambarkan kebutuhan mobil perkotaan.Baca juga: Jangan Salah Paham, Ini Bedanya Child Lock dan Central LockHasilnya rata-rata konsumsi BBM Toyota Corolla Altis GR HEV tercatat 4,6 liter per 100 km atau setara 21,7 kilometer per liter (kpl). Dengan catatan tersebut, Corolla Altis GR HEV menempatkan diri sebagai salah satu sedan elektrifikasi yang cukup hemat bahan bakar.Kompas.com/adityo konsumsi BBM Corolla Altis GR HEVDi balik efisiensi tersebut, sedan ini mengandalkan paket hybrid yang sudah dikenal stabil dan responsif.Corolla Altis GR HEV dibekali mesin 2ZR-FXE 1.798 cc, konfigurasi 4-silinder segaris DOHC Dual VVT-i, yang mampu menghasilkan 98 PS (96 Tk) pada 5.200 rpm dan torsi 139 Nm pada 3.600 rpm.Mesin bensin ini kemudian dipadukan dengan motor listrik bertenaga 72 PS (70 Tk) dan torsi 159 Nm, menciptakan kombinasi tenaga yang cukup besar untuk ukuran sedan harian.Baca juga: Penting, Pastikan Fitur Child Lock Tidak Aktif Saat Naik Taksi OnlineTotal distribusi tenaga disalurkan melalui transmisi e-CVT yang bekerja halus tanpa hentakan. Responsnya terasa instan ketika pedal gas disentuh, tetapi tetap menjaga ritme berkendara agar efisiensi tetap terjaga.Perpaduan karakter mesin bensin dan motor listrik inilah yang membantu Corolla Altis GR HEV bergerak lincah di kemacetan, melaju halus di tol, sekaligus menjaga konsumsi BBM tetap rendah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-05 05:41