- Psikolog Klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh serta EMDR Asia Accredited Trainer & Consultant, Yulia Direzkia, M.Si., menilai kondisi psikologis penyintas banjir bandang di Aceh dan Sumatera berada dalam tekanan berat, seiring belum terpenuhinya kebutuhan dasar.Menurut Yulia, situasi seperti itu membuat upaya pemulihan psikologis sulit dilakukan jika kebutuhan dasar pengungsi belum terpenuhi."Menurut saya, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar, terutama tempat tinggal," jelas Yulia ketika dihubungi Kompas.com pada Selasa . Yulia menegaskan pentingnya penanganan kesehatan mental, terutama karena para penyintas masih berada dalam fase syok dan trauma.Baca juga: Bantuan Malaysia untuk Aceh Dinilai Diremehkan Pemerintah Pusat RI, Media Asing: Cukup Ucap Terima Kasih"Bencana ini sudah berlangsung lebih dari tiga minggu, dan di beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang dan Bener Meriah masih ada daerah yang terisolasi dan bahkan belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam kondisi seperti itu, hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk tidak mengalami stres," ungkap Yulia.Tekanan psikologis para korban muncul bukan hanya karena bencana itu sendiri, tetapi juga akibat kehilangan berlapis yang mereka alami.Banyak warga kehilangan anggota keluarga, rumah, hingga jejak kehidupan yang selama ini mereka miliki.“Ada warga yang sudah tidak bisa lagi menunjukkan di mana rumahnya dulu berdiri karena wilayah tersebut telah tersapu banjir dan lumpur. Kehilangan seperti itu sangat berat secara psikologis,” jelas Yulia.Baca juga: Warga Aceh Barat Temukan Emas di Wilayah Bekas Banjir, Ini Penjelasan Dosen UGMYulia menjelaskan, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan menjadi prasyarat penting dalam proses pemulihan psikologis penyintas.Selain itu, manusia secara alami sebenarnya mampu untuk melakukan pemulihan diri setelah mengalami peristiwa traumatis, tetapi kemampuan tersebut bergantung pada kondisi lingkungan."Dalam waktu sekitar satu bulan setelah peristiwa traumatis, seseorang masih mampu mengaktifkan mekanisme pemulihan diri, asalkan kebutuhan dasarnya terpenuhi," jelas Yulia.Sebaliknya, apabila kondisi darurat berlangsung lama tanpa kepastian adanya pemenuhan kebutuhan dasar, risiko gangguan psikologis yang semakin berat juga akan semakin besar.Baca juga: Kala UNDP dan UNICEF Respons Surat soal Bantuan Aceh Kurang dari 24 JamYulia menceritakan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun menangani kasus penyintas konflik dan tsunami.Ia menyebutkan bahwa trauma sering kali tidak muncul di awal, tetapi baru terlihat bertahun-tahun kemudian."Saya banyak menemui kasus delayed onset PTSD, di mana gejala baru muncul 10 hingga 20 tahun setelah peristiwa traumatis, sering kali dalam bentuk depresi atau keinginan bunuh diri," ungkap Yulia.
(prf/ega)
Kebutuhan Dasar Korban Banjir Aceh Belum Terpenuhi, Psikolog: Hampir Tidak Mungkin Tidak Stres
2026-01-11 03:44:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:33
| 2026-01-11 02:54
| 2026-01-11 01:44
| 2026-01-11 01:35










































