Kerabat Keraton Surakarta Laksanakan Brobosan, Tanda Penghormatan Terakhir Raja PB XIII

2026-01-15 13:23:58
Kerabat Keraton Surakarta Laksanakan Brobosan, Tanda Penghormatan Terakhir Raja PB XIII
SOLO, - Prosesi brobosan dilaksanakan oleh kerabat Keraton Kasunanan Surakarta sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII, pada Rabu pagi.Hari ini, Rabu Raja PB XIII akan dimakamkan di kompleks makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Kerabat Keraton Solo, KGPH Puger, menjelaskan bahwa pihak keraton telah menyiapkan tata cara pemakaman secara adat.Sebelum diberangkatkan, dilakukan penghormatan terakhir dari berbagai komunitas kepada almarhum.Baca juga: Jelang Pemakaman PB XIII di Imogiri Yogyakarta, 25 Orang Disiapkan untuk Menandu JenazahSetelah itu, jenazah diarak menggunakan kereta kuda menuju lokasi transit di rumah dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, sebelum dibawa dengan ambulans ke Imogiri.“Di Imogiri nanti ada prosesi naik tangga. Jenazah akan disemayamkan lebih dulu di Masjid Imogiri, kemudian disholatkan sebelum dibawa ke lokasi pemakaman di liang lahat,” papar Puger.Ia menambahkan, prosesi dari Keraton Solo diawali dengan brobosan di pelataran kompleks keraton.Jenazah akan keluar melalui jalur Parasiyo, Sasono Sewoko, pelataran Keraton, Magangan, dan Alun-alun Kidul sebelum melanjutkan perjalanan menuju Loji Gandrung.Baca juga: Antusiasme Warga Sambut Kedatangan Jenazah PB XIII di Loji Gandrung SoloKemudian, juga ada prosesi jenazah yang diiringi prajurit keraton dan diwarnai dengan penyebaran udik-udik di sepanjang rute kirab jenazah PB XIII.Jenazah PB XIII akan dikirab dari pintu Magangan Keraton hingga transit di Loji Gandrung.Dalam prosesi pelepasan jenazah, akan diwarnai juga penghormatan dari masyarakat Kota Solo, sepanjang rute yang akan dilewati.Diberitakan sebelumnya, Wakapolresta Solo AKBP Sigit mengatakan, ratusan personel disiagakan di titik-titik strategis sepanjang rute prosesi, mulai dari Keraton, Loji Gandrung, hingga perbatasan Kota Solo.Pihaknya juga membuat tirai pengamanan dan imbauan kepada masyarakat.“Petugas juga akan membuat tirai pengamanan dan memberi imbauan kepada masyarakat agar situasi tetap kondusif,” ujar Sigit, Selasa .Ia juga meminta warga untuk tidak berdesak-desakan saat menyaksikan iring-iringan.Baca juga: Nguri-uri Budaya, Warga Luar Kota Ikut Hadiri Pemakaman PB XIII di Imogiri Yogyakarta


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-15 13:23