Rano Karno: Solusi Tanggul Pantai Mutiara Rembes Bukan Cuma Nempel Semen

2026-02-03 12:14:04
Rano Karno: Solusi Tanggul Pantai Mutiara Rembes Bukan Cuma Nempel Semen
Tanggul di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara (Jakut), retak hingga membuat air laut mulai merembes. Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno mengatakan dirinya tak mau hal itu diatasi dengan sekadar menempel semen."Sedang dievaluasi. Pasti akan ada tindakan. Solusi itu tidak hanya sekadar nempel. Kalau cuma nyemen mah, gampang. Artinya, kita memang mau membuat tanggul," ujar Rano di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2025).Dia mengatakan Pemprov DKI akan membuat solusi jangka panjang. Dia mengatakan kondisi tanggul yang retak berbahaya jika terus dibiarkan."Wali Kotanya sudah ke sana, pasti solusinya kita lakukan. Kalau nggak, bahaya itu," ujarnya. Sebelumnya, tanggul di Pantai Mutiara retak sehingga menyebabkan air laut rembes. Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengatakan tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) sedang dibangun."Adapun untuk penanganan jangka panjang, Dinas SDA tengah melakukan pembangunan tanggul pengaman pantai NCICD di sejumlah titik kritis di pesisir utara Jakarta, salah satunya di kawasan Pantai Mutiara," kata Kepala Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas SDA DKI Jakarta, Ciko Tricanescoro, kepada wartawan, Rabu (26/11).Dia mengatakan pembangunan NCICD dilanjutkan tahun ini dengan target rampung 2027. Tanggul NCICD akan dibangun sepanjang 530 meter, dengan rincian 430 meter di sisi timur kawasan dan sepanjang 100 meter di sisi barat Pantai Mutiara."Pembangunan tanggul NCICD di kawasan pesisir Pantai Mutiara dilanjutkan kembali pada tahun ini yang akan dikerjakan menggunakan skema multiyears (MY) pada 2025-2027. Adapun saat ini masih dalam proses lelang," ujarnya.Simak juga Video: Tanggul Pantai Mutiara Rembes, Ratusan Rumah Mewah Terancam Tenggelam[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 11:36