Baru Dua Bulan Menikah, Suami di Depok Lempar Ponsel ke Wajah Istri

2026-01-12 12:30:55
Baru Dua Bulan Menikah, Suami di Depok Lempar Ponsel ke Wajah Istri
DEPOK, – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Sawangan, Kota Depok, menimpa pasangan suami istri yang masih berusia muda dan baru dua bulan menikah.Peristiwa penganiayaan tersebut menyebabkan korban mengalami luka serius pada mata kiri hingga harus menjalani operasi.Pasangan suami istri tersebut adalah Rifqi Aditya (20) dan AA (19) yang diketahui menikah pada Oktober 2025, sebelum insiden penganiayaan terjadi di Bedahan, Sawangan, Kota Depok, pada Selasa .Baca juga: Baru Dua Bulan Menikah, Pria di Depok Jadi Tersangka KDRT terhadap Istri“Mereka menikah pada Oktober 2025. Jadi setelah kejadian (penganiayaan) ini mereka baru menginjak perkawinan bulan yang kedua,” ucap Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi saat ditemui di Polres Depok, Senin .Made menjelaskan, penganiayaan dilakukan Rifqi dengan cara melempar ponsel ke arah wajah kiri korban hingga mengenai mata. Tidak berhenti di situ, pelaku juga memukul wajah korban menggunakan tangan dan menginjak paha korban sebanyak dua kali.“Ketika pelemparan tersebut, korban dengan serta merta meringis kesakitan dan kemudian segera dilakukan penanganan lebih lanjut ke rumah sakit,” ujar Made.Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, penganiayaan dipicu emosi pelaku saat hendak meminjam ponsel milik korban untuk bermain gim online. Saat itu, ponsel pelaku diketahui sedang diisi daya.“Dikarenakan cekcok ketika pelaku meminjam handphone milik istrinya, namun tidak diperkenankan sehingga korban merasa marah,” terang Made.“Kemudian terjadilah beberapa kali tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku,” tambahnya.Baca juga: Amarah Suami di Depok: Aniaya Istri hingga Mata Dioperasi karena Berebut PonselPelaku mengakui bahwa tindakan kekerasan tersebut baru pertama kali dilakukan, meskipun sebelumnya kerap terjadi cekcok dalam rumah tangga mereka.Saat ini, Rifqi telah ditangkap polisi sejak Jumat dan resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.Polisi turut menyita barang bukti berupa alat hisap sabu yang ditemukan di dalam boks ponsel milik pelaku.Atas perbuatannya, Rifqi dijerat Pasal 44 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.Sementara itu, korban diketahui baru saja menjalani operasi pada mata kirinya dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.“Kondisi korban terakhir kami dapatkan informasi sudah dalam perawatan, namun tidak bisa diminta keterangan lebih lanjut,” lanjut dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 11:05