- Toxic relationship (hubungan toksik) sering kali tidak disadari, khususnya oleh korban. Sebab, pertengkaran, kesalahpahaman, dan kejenuhan tergolong umum terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah saat masalah-masalah itu berubah menjadi pola yang berulang, hingga kesehatan mental dan emosional mulai memburuk. Di titik inilah sebuah hubungan dapat berubah menjadi toxic relationship.Baca juga: Pakar psikologi Dr. Lillian Glass menjelaskan toxic relationship sebagai hubungan yang tidak lagi didasari oleh prinsip saling mendukung dan menghormati satu sama lain.“Toxic relationship terjadi ketika dua orang dalam hubungan tersebut tidak saling mendukung, penuh konflik, saling menjatuhkan, kompetitif, penuh ketidakhormatan, dan tidak ada kebersamaan,” jelas Glass, seperti dikutip dari Good Housekeeping, Selasa, .Hubungan tidak lagi menjadi ruang aman, tetapi tempat yang membuat salah satu atau kedua pasangan justru merasa tertekan.Psikolog klinis Michaela Thomas memperjelas, istilah toxic bukan berarti sekadar hubungan yang membosankan atau kehilangan gairah. “Toxic berarti hubungan itu berbahaya untuk kesejahteraanmu dan seperti racun, dapat meninggalkan luka mendalam dan berkepanjangan sehingga kamu mungkin memerlukan bantuan untuk pulih,” ungkap Thomas. Seorang pelatih seks dan hubungan, Angela Vossen menambahkan, penolakan, tindakan meremehkan, atau ejekan saat seseorang mencoba mengungkapkan perasaannya merupakan sinyal kuat bahwa hubungan sudah tidak sehat.“Toxic relationship adalah hubungan yang secara konsisten merusak kesejahteraan, kesehatan, kebahagiaan, atau keselamatan salah satu atau kedua pasangan,” tutur Angela, disadur dari The Telegraph.Kamu mungkin merasa harus mengukur setiap kata dan tindakan agar tidak memicu kemarahan pasangan. Bahkan pesan sederhana seperti “kamu di mana?” bisa memunculkan rasa panik karena kamu takut reaksi negatif jika jawabanmu tidak sesuai harapannya. “Rasa takut terhadap reaksi pasangan adalah indikator kuat bahwa hubungan mengancam kesejahteraan emosional,” ucap Angela.Dok. Freepik/jcomp Jangan abaikan perasaan tidak aman dalam hubungan. Simak tanda toxic relationship untuk tahu kapan harus berhenti.Hubungan bisa terasa seperti medan perang, bukan tempat pulang jika tidak dilandaskan dengan rasa saling menghormati. Kritik yang menyakitkan, komentar merendahkan, dan diam berhari-hari tanpa mau berdiskusi membuatmu merasa tidak dianggap. “Pola ini mengikis rasa hormat dan kohesi sehingga kepercayaan perlahan runtuh,” kata Glass.Kamu mulai mempertanyakan apa yang kamu pikir benar karena pasangan memutarbalikkan fakta. Dia bisa mengatakan kamu “drama”, padahal kamu hanya mengungkapkan perasaan. Menurut Angela, perilaku ini sudah termasuk gaslighting.“Gaslighting adalah perilaku berbahaya karena membuat korban meragukan realitasnya sendiri hingga kewarasannya,” tambahnya.
(prf/ega)
Apa itu Toxic Relationship? Waspadai 10 Tandanya Berikut Ini
2026-01-12 04:07:04
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:21
| 2026-01-12 03:00
| 2026-01-12 02:39










































