Sensasi Nonton Pertunjukan Luar Angkasa di Planetarium Usai Belasan Tahun Tutup

2026-01-14 11:31:21
Sensasi Nonton Pertunjukan Luar Angkasa di Planetarium Usai Belasan Tahun Tutup
JAKARTA, – Setelah ditutup selama 13 tahun, Planetarium di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, kembali dibuka untuk umum pada Kamis .Pembukaan kembali ini disambut antusias warga yang rindu menikmati wahana edukasi astronomi di Ibu Kota.Pada hari perdana operasional, Teater Bintang Planetarium menyuguhkan film edukasi tentang tata surya yang diputar dalam tiga sesi, yakni pukul 11.30 WIB, 14.00 WIB, dan 16.30 WIB.Penonton yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.Baca juga: Planetarium Kini Dilengkapi Teknologi Canggih, Ada 12 Proyektor dan Hologram InteraktifManajer Teater Bintang Planetarium Arnold Kindangen mengatakan, Planetarium TIM dibuka sebagai ruang edukasi publik yang terjangkau bagi masyarakat. Khusus pelajar, akses masuk diberikan secara gratis."Ini adalah kado dari Gubernur kita untuk warga Jakarta, untuk anak-anak sekolah diberi gratis Desember ini, nanti kami mau buka Planetarium ini gratis untuk semua pelajar dan untuk pendampingnya orangtua ataupun umum, kami hanya mengenakan tarif Rp 10.000," jelas Arnold saat ditemui di lokasi, Kamis.Arnold menjelaskan, tiket pertunjukan dapat diperoleh secara daring melalui akun Instagram resmi @tim.cikini. Calon pengunjung diminta mengisi formulir daring berisi biodata dan memilih jadwal pertunjukan. Setelah itu, tiket akan dikirimkan melalui email.Setibanya di Planetarium, pengunjung diwajibkan mencetak tiket tersebut untuk diperiksa oleh petugas keamanan sebelum memasuki ruang teater.Selain pemeriksaan tiket, pengunjung juga diminta menitipkan makanan dan minuman yang dibawa dari luar kepada petugas.Baca juga: Buka Perdana Setelah 13 Tahun Ditutup, Antrean Pengunjung Planetarium MengularUsai pemeriksaan, pengunjung dipersilakan memasuki ruang teater dan memilih tempat duduk. Petugas akan mengarahkan penonton untuk mengisi bangku bagian belakang terlebih dahulu demi kenyamanan menonton."Total kursi 228, tapi yang dibuka 200 kursi aja, karena untuk angle nontonya," ujar Arnold.Dari total 200 kursi yang dibuka, sebanyak 185 kursi diperuntukkan bagi pelajar dan pengunjung umum, sementara sisanya disiapkan untuk tamu VIP yang telah melakukan konfirmasi dengan pengelola.Lima baris kursi terdepan didesain dengan posisi setengah tiduran atau sekitar 60 derajat. Desain ini memungkinkan penonton menikmati film yang diproyeksikan ke langit-langit teater berbentuk setengah lingkaran secara lebih nyaman.Pemutaran film didukung oleh 12 proyektor yang dipasang mengelilingi ruang teater. Seluruh proyektor diarahkan ke kubah langit-langit untuk menampilkan visual tiga dimensi yang tajam dan imersif.Baca juga: 13 Tahun Tutup, Planetarium Jakarta Kini Buka Lagi dan Beri Akses Gratis 3 BulanSaat film diputar, lampu teater dimatikan dan penonton dilarang menggunakan ponsel, termasuk untuk memotret atau merekam. Setiap film berdurasi sekitar 15 hingga 20 menit.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-14 11:43