Hitung-hitungan Token Listrik Rp 100.000 Bisa Tahan 1,5 Bulan untuk Anak Kos

2026-02-02 04:35:56
Hitung-hitungan Token Listrik Rp 100.000 Bisa Tahan 1,5 Bulan untuk Anak Kos
- Pengeluaran listrik menjadi salah satu kebutuhan rutin yang harus diperhitungkan oleh anak kos, terutama bagi pengguna listrik prabayar.Nominal pembelian token listrik yang beragam membuat sebagian penghuni kos memilih angka tertentu agar pengeluaran tetap terkontrol.Salah satu nominal yang umum dibeli adalah token listrik Rp 100.000. Nah, beberapa pelanggan mungkin belum memahami seberapa besar daya listrik yang diperoleh dari nominal tersebut.Baca juga: Cara Hemat Token Listrik Rp 100.000 agar Tahan hingga 49 Hari untuk Anak KosPadahal perkiraan pemakaian listrik penting diketahui agar pengeluaran bulanan dapat dikelola dengan lebih efisien. Dengan pemakaian yang bijak, token listrik Rp 100.000 bisa saja tahan untuk 1,5 bulan.Sebelum menghitung daya tahan token Rp 100.000, penting mengetahui tarif listrik yang berlaku.Pada Desember ini, tarif listrik rumah tangga yang berlaku sama dengan bulan-bulan sebelumnya sejak Januari 2025. Berikut besaran tarifnya:Baca juga: Laptop, Ponsel, Lampu, dan Kipas Angin Jadi Alat Elektronik Anak Kos, Berapa Kebutuhan Listriknya?Token listrik yang dibeli pelanggan akan dikonversi menjadi satuan kilowatt hour (kWh). Namun, nominal token juga dipotong Pajak Penerangan Jalan (PPJ), besarannya tergantung daerah.Sebagai contoh, anak kos di Jakarta dengan daya 900 VA-RTM membeli token Rp 100.000. PPJ Jakarta sebesar 2,4 persen, sehingga perhitungannya:Maka listrik yang diperoleh:Baca juga: Token Listrik Rp 50.000 Bisa Bertahan Berapa Hari bagi Anak Kos?Sebagaimana dilansir Kompas.com, Sabtu , Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Toto Sukisno, menjelaskan kebutuhan listrik anak kos umumnya berasal dari peralatan sederhana.Perkiraan konsumsi listrik harian adalah sebagai berikut:Jika dijumlahkan, kebutuhan listrik anak kos dalam sehari sekitar 1,48 kWh.Baca juga: Beli Token Listrik Berapa agar Listrik Kos Tahan hingga Sebulan?Dengan listrik yang diperoleh sebesar 72,19 kWh dan konsumsi harian sekitar 1,48 kWh, maka hitungannya:72,19 kWh : 1,48 kWh = 48 hariArtinya, token listrik Rp 100.000 bisa mencukupi kebutuhan anak kos selama sekitar 1,5 bulan, dengan catatan pemakaian listrik tetap hemat dan tidak menambah banyak perangkat elektronik.Namun, durasi ini bisa lebih singkat jika penggunaan listrik meningkat, misalnya memakai rice cooker, dispenser panas, atau alat elektronik berdaya besar lainnya.(Sumber: Kompas.com/Aditya Priyatna Darmawan | Editor: Inten Esti Pratiwi)


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 04:42