Saat Hutan Bengkulu Dirambah Sawit Ilegal, Warga Diteror Krisis Air, Gajah dan Harimau Tak Berumah

2026-01-11 03:59:54
Saat Hutan Bengkulu Dirambah Sawit Ilegal, Warga Diteror Krisis Air, Gajah dan Harimau Tak Berumah
BENGKULU, - Gutomo, Kepala Desa Gajah Makmur, Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu masih ingat beberapa tahun lalu saat 17 ekor gajah mendekati kampungnya, membuat panik warganya.Sebelumnya, harimau sumatera juga melahap 20-an ekor sapi dan kambing warga desanya serta desa tetangga, yakni Desa Lubuk Talang, dalam rentang waktu satu tahun.Kemudian, serangan beruang memasuki area perkebunan milik warga desa yang mengancam keselamatan warganya.Kisah bencana juga ada, banjir begitu cepat terjadi bila hujan sebentar saja.Terakhir, Gutomo mengkhawatirkan krisis air bersih yang sudah dialami ratusan warganya jika dua hari saja hujan tidak datang."Sumur kami mudah kering, dua hari tidak hujan pasti kering. Kami krisis air, hanya memanfaatkan air sungai yang jaraknya jauh. Ini terjadi sejak ribuan hektar hutan dirambah orang luar," kata Gutomo.Baca juga: Perdagangan Ilegal Satwa Liar Menggiurkan, Populasi Burung Hutan Sumatera Turun DrastisKampung Gutomo berbatasan dengan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis dan Hutan Produksi (HP) Air Rami.Dua kawasan hutan ini merupakan kantong gajah sumatera dan harimau sumatera."Jarak kawasan hutan dengan desa kami paling sekitar lima kilometer, sangat dekat. Sementara sekarang ribuan hektar kawasan hutan itu hancur dirambah sawit ilegal oleh orang luar, maka wajar harimau, gajah, beruang, dan bencana alam melanda kami yang terdekat dengan kawasan hutan," katanya.Perambahan, katanya, terjadi kecil-kecil sejak tahun 2017. Warga luar datang membuka hutan skala kecil.Lalu pada 2023, perambahan masif terjadi serentak menyerang kawasan hutan, terutama ketika jalan aspal sudah dibangun.Ia tak mengira jalan aspal yang sampai ke desanya tahun 2023 ternyata mempermudah ratusan perambah menggunduli hutan menjadi kebun sawit ilegal di sekitar kampungnya."Memang sebelum jalan aspal ada, perambahan sudah dilakukan orang luar, jumlahnya sedikit. Paling dua hektar, tidak seperti sekarang ribuan hektar," ujar Gutomo ditemui di kediamannya, belum lama ini.Baca juga: Harapan Baru Konservasi: Trio Anak Harimau Sumatera Terpotret di Way KambasSejak ribuan hektar hutan hancur, intensitas hujan di kampungnya juga ikut berkurang. "Kalau dahulu hutan masih bagus, hujan hampir setiap hari, kondisi desa sejuk. Sekarang panas seperti kemarau berkepanjangan," kata dia. Saat ini, desanya banyak dilalui oleh orang asing yang tidak ia kenali menuju kawasan hutan untuk merambah.


(prf/ega)