Kamboja Minta Malaysia Jadi Juru Damai Lagi dalam Perang Lawan Thailand

2026-01-13 14:29:32
Kamboja Minta Malaysia Jadi Juru Damai Lagi dalam Perang Lawan Thailand
PHNOM PENH, - Kementerian Pertahanan Kamboja mengusulkan pembicaraan bilateral dengan Thailand mengenai syarat-syarat gencatan senjata dilakukan di Kuala Lumpur, Malaysia, alih-alih di wilayah Thailand seperti yang direncanakan sebelumnya.Permintaan ini tertuang dalam surat bertanggal Senin dari Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, kepada Menteri Pertahanan Thailand, Nattaphon Narkphanit.Dalam surat yang salinannya diperoleh AFP dan dikonfirmasi oleh pihak kementerian, Tea Seiha menyebut alasan keamanan sebagai pertimbangan utama.Baca juga: Pekan Ini, Thailand dan Kamboja Bakal Bertemu Untuk Selesaikan Konflik Perbatasan“Demi alasan keamanan karena pertempuran yang sedang berlangsung di sepanjang perbatasan, pertemuan ini harus diadakan di tempat yang aman dan netral,” tulis Tea Seiha dalam surat tersebut.Malaysia, yang saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN, menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan tersebut di Ibu Kota Kuala Lumpur.Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow pada Senin mengumumkan rencana pembicaraan dengan Kamboja.Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan dengan para menteri luar negeri negara-negara ASEAN di Kuala Lumpur. Kamboja juga menjadi anggota blok ini.AGENCE KAMPUCHEA PRESS via AFP Warga Kamboja berbondong-bondong mengungsi dari medan pertempuran melawan Thailand, di Provinsi Oddar Meanchey, 8 Desember 2025.Menurut Sihasak, diskusi antara kedua negara dijadwalkan berlangsung pada Rabu di Chanthaburi, Thailand, dan akan difasilitasi melalui kerangka komite perbatasan bilateral yang sudah ada.Namun, ketegangan di lapangan justru belum mereda. Pada Selasa pagi, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Maly Socheata menyatakan, bentrokan di sepanjang perbatasan masih terus berlangsung.“Pertempuran masih terjadi di sepanjang perbatasan,” ujarnya kepada wartawan.Baca juga: Usai AS, China Klaim Sukses Redakan Konflik Thailand-KambojaKementerian Pertahanan Kamboja juga menuding Thailand melakukan serangan udara ke wilayah Kamboja pada Senin.Serangan itu terjadi tak lama setelah Bangkok mengumumkan rencana pembicaraan bilateral.Dalam pernyataan resminya, Kementerian Pertahanan Kamboja menambahkan bahwa pasukan Thailand menembaki kota perbatasan Poipet, yang terletak di wilayah Kamboja.Perang Thailand-Kamboja meningkat dalam dua pekan terakhir, memicu bentrokan mematikan yang membubarkan gencatan senjata sebelumnya.Hingga kini, sedikitnya 23 orang di Thailand dan 21 orang di Kamboja tewas. Selain itu, lebih dari 900.000 orang dilaporkan mengungsi akibat konflik tersebut.Baca juga: Candi Era Sriwijaya Jadi Pemicu Perang Thailand-Kamboja, Begini Sejarahnya


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-13 13:22