Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Tebalnya 7.958 Halaman, Bicara Apa Saja?

2026-01-15 04:09:14
Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Tebalnya 7.958 Halaman, Bicara Apa Saja?
- Sejarah Indonesia yang ditulis ulang ke dalam buku tebalnya mencapai 7.958 halaman.Buku ini dirilis oleh Kementerian Kebudayaan, Minggu .Judul bukunya "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" dan terbagi ke dalam sebelas jilid.Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. turut menjadi menjadi salah satu editor umum.Singgih mengatakan, awalnya merencanakan penulisan menjadi 5.000 halaman."Hasilnya di luar dugaan, yang rencananya itu hanya 5.000 halaman, ini melonjak menjadi 7.958 halaman. Ini begitu semangatnya ya," ucap Singgih.Adapun jilid-jilid buku tersebut terdiri dari 10 jilid utama serta jilid terakhir isinya faktaneka dan daftar pustaka.Penulisan ulang sejarah Indonesia ini dilakukan oleh 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan juga lembaga non-perguruan tinggi di Tanah Air.Baca juga: Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dirilis, Setebal 7.958 HalamanEditor umum yang terlibat dalam pembuatan buku ini berjumlah tiga orang yang merupakan para ahli sejarah.Lalu ada pula 20 pakar yang menjadi editor jilid.Pada setiap jilid buku berisi bab-bab dan sejumlah sub bab.Maka itu tebal dari masing-masing jilid berbeda pula.Judul dari 10 jilid utama:1. Akar Peradaban Nusantara2. Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan dengan India, Tiongkok dan Persia


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-15 14:49