SURABAYA, – Produksi radioisotop dan radiofarmaka di Sidoarjo diharapkan memperpendek jarak akses layanan deteksi dini kanker, terutama bagi rumah sakit di luar Jakarta. Kehadiran fasilitas ini dinilai penting untuk mengurangi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah.Radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FDG), diproduksi PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya, PT Global Onkolab Farma (GOF). Fasilitas di Sidoarjo menjadi rumah produksi kedua setelah Jakarta.“Yang mana kita tahu bahwa penyakit kanker makin parah dan berkembang. Sesuai dengan Kementerian Kesehatan, ini menjadi bagian penting bagi kita sebagai anak bangsa untuk membuka support dalam penyediaan FDG,” kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk Mulia Lie, Senin .FDG merupakan radiofarmaka utama yang digunakan dalam layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan). Pemeriksaan ini berfungsi mendeteksi aktivitas sel kanker melalui pencitraan medis tingkat lanjut.Baca juga: Dari Sidoarjo, Kalbe Perkuat Deteksi Dini Kanker NasionalSelama ini, ketersediaan radiofarmaka tersertifikasi di dalam negeri masih terbatas. Kondisi tersebut membuat layanan PET/CT-Scan belum merata, karena sangat bergantung pada pasokan radiofarmaka yang cepat dan stabil.Jawa Timur dipilih sebagai lokasi strategis untuk mendukung kebutuhan rumah sakit di wilayah Indonesia Timur, mulai dari Bali, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur. Kedekatan geografis dinilai krusial mengingat karakter radiofarmaka yang memiliki waktu simpan sangat singkat.“Produk ini punya waktu taruh yang pendek sehingga memerlukan pengiriman yang cepat karena itu hanya dua jam. Harapannya cepat menyediakan produk ini ke rumah sakit untuk pemeriksaan deteksi kanker,” jelas Lie.Lie memastikan radioisotop dan radiofarmaka yang diproduksi telah mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta berada dalam pengawasan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).“Memang produk ini vital dan krusial dibutuhkan di Indonesia sehingga proses mendapatkan fasilitas perizinan untuk fasilitas kita bisa dapatkan dalam waktu cepat dan nomor izin edar telah kita dapatkan,” katanya.Baca juga: Cegah Kasus Cikande Cs-137, BPOM dan Bapeten Awasi Produksi Radioisotop di Kalbe SidoarjoKepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa percepatan perizinan dilakukan tanpa mengurangi standar mutu produk.“Percepatan bukan berarti kualitasnya diturunkan karena asal-asalan dan sebagainya. Kita sudah memenuhi standar dengan prosedur cepat,” kata Taruna.Tingginya kebutuhan radiofarmaka juga berkaitan dengan beban kanker di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan, kasus baru kanker mencapai 433 ribu per tahun dengan tingkat kematian yang masih tinggi.“Ada tiga juta ahli dan kasus baru ada 433 ribu setiap tahun. Terus kita mengejar karena 60 persen lebih itu meninggal sebelum lima tahun mortality tinggi sekali. Jadi produk ini sangat dibutuhkan,” jelasnya.Baca juga: Ketergantungan Impor Bahan Baku Farmasi Masih Tinggi, Kalbe Genjot Substitusi LokalDirektur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Jeffri Ardiyanto berharap kehadiran fasilitas produksi di Sidoarjo dapat membantu rumah sakit yang selama ini memiliki keterbatasan akses.“Ini menjawab kemudahan akses. Bayangkan kalau di Jakarta sampai ke Indonesia Timur di Surabaya. Jadi tidak hanya berkualitas tapi mudah diakses,” ujar Jeffri.Kementerian Kesehatan RI mendorong percepatan produksi dan distribusi radiofarmaka sebagai bagian dari upaya menekan angka kematian kanker dan memperluas layanan deteksi dini di berbagai daerah.Baca juga: Kalbe Siapkan Strategi 2026, Perkuat Investasi Radiofarmaka hingga Bahan Baku Obat
(prf/ega)
Kalbe Pangkas Jarak Layanan Kanker ke Daerah lewat Produksi Radioisotop-Radiofarmaka di Sidoarjo
2026-01-12 03:30:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:30
| 2026-01-12 03:21
| 2026-01-12 03:10
| 2026-01-12 02:42
| 2026-01-12 01:52










































