Anak Buah Purbaya Sebut Himbara Telah Serap Rp 167,6 Triliun dari Dana Rp 200 T

2026-02-05 04:46:57
Anak Buah Purbaya Sebut Himbara Telah Serap Rp 167,6 Triliun dari Dana Rp 200 T
JAKARTA, - Pemerintah menyalurkan dana sebesar Rp 200 triliun ke Bank Himbara guna menumbuhkan kepercayaan dan optimisme di kalangan pelaku usaha maupun masyarakat.Sebanyak 84 persen dana tersebut sudah tersalurkan hingga 22 Oktober 2025.Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, menyebut hasil kebijakan ini terlihat cepat.Dari total Rp 200 triliun yang ditempatkan ke Himbara, ada Rp 167,6 triliun yang terserap.Baca juga: Purbaya Wanti-wanti Himbara Tak Beri Kredit ke Konglomerat Pakai Dana Rp 200 T“Contohnya, BRI dan Mandiri sudah menyalurkan 100 persen, bahkan minta tambahan. Tapi BNI dan BTN masih di bawah itu,” ujarnya dalam Ekonomi Outlook di Jakarta pada Rabu .Febrio memaparkan, penyaluran kredit Mandiri dan Bank BRI telah tersalurkan sebanyak Rp 55 triliun atau 100 persen.Disusul Bank BNI sebesar Rp 37,4 triliun atau baru 68 persen, Bank BTN Rp 10,3 triliun atau 41 persen, dan BSI di Rp 9,9 triliun terserap 99 persen.Febrio menyebut langkah pemerintah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun di bank-bank Himbara bertujuan menurunkan biaya dana atau cost of fund perbankan.Sebelumnya, lebih dari 30 persen sumber dana bank berasal dari deposito berbunga tinggi atau special rate, yang membuat biaya dana meningkat.Dengan adanya penempatan dana pemerintah berbunga rendah, yakni sekitar 3,8 persen, tekanan tersebut berkurang.Kondisi ini memberi ruang bagi bank-bank dengan kinerja kredit yang baik untuk lebih agresif menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat dan pelaku usaha.Nantinya, Febrio menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap tingkat serapan dana di masing-masing bank.Prinsipnya, penempatan dana dilakukan dengan manajemen kas yang efisien, tanpa mengganggu kebutuhan operasional negara.“Tidak ada konsekuensi langsung kalau belum terserap 100 persen, karena ini bukan kontrak pinjaman. Namun, karena bunganya murah, bank akan terdorong menyalurkannya agar dana tersebut produktif,” jelasnya.Ia menambahkan, kebijakan ini juga membantu bank menurunkan bunga deposito dan mempercepat penyaluran kredit.Dampaknya, suku bunga pinjaman ikut turun dan daya dorong konsumsi maupun investasi diharapkan meningkat pada kuartal IV-2025.Kementerian Keuangan menilai langkah ini menjadi bagian dari strategi fiskal ekspansif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global, sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui sektor keuangan.Baca juga: Purbaya Siap Tambah Uang ke Bank Himbara Jika Penempatan Rp 200 Triliun Habis Terserap


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 04:18