Lewat Teater, Anak-anak Sebangau Ungkap Trauma Karhutla dan Harapan untuk Hutan Gambut

2026-02-03 03:57:54
Lewat Teater, Anak-anak Sebangau Ungkap Trauma Karhutla dan Harapan untuk Hutan Gambut
PALANGKA RAYA, - Ada yang berbeda dengan suasana tempat Wisata Air Hitam, Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), pada Minggu .Puluhan anak menampilkan teater dengan kostum unik dengan diiringi dentuman musik latar yang memekakkan telinga, hingga membuat suasana tempat wisata itu lebih ramai dari biasanya.Ke-65 anak itu menampilkan aksi teatrikal dengan memakai kostum khas: jubah besar berwarna merah yang bermotif api yang melambangkan kebakaran, jubah besar berwarna hijau-cokelat melambangkan pohon, hingga kaos putih bergambar Festival Anak Sebangau 2025 dengan sebagian anak yang menggunakan topeng hewan, dari singa, babi hutan, macan, hingga harimau.Semula, musik mengalun lembut dengan suasana drama yang tenang, anak-anak dan hewan terlihat hidup berdampingan dengan kondisi udara yang asri di sekitar hutan.Namun, situasi itu tak bertahan lama setelah api menyelimuti ruang hidup hewan dan anak-anak manusia tersebut, sampai membuat mereka harus pingsan karena kondisi udara yang tak lagi bersahabat.Baca juga: Palangka Raya Catat 150 Kejadian Karhutla, Pemkot Waspada Bencana Susulan Imbas Cuaca PanasApi membakar hutan, mengganggu tempat bermain anak di luar ruangan, membunuh hewan-hewan yang hidup, dan menciptakan kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan hewan maupun manusia.Para hewan harus kehilangan nyawa karena api menghabisi ruang-ruang hidup mereka, tempat mereka mencari makan, menjaga keseimbangan ekosistem.Namun, secercah harapan muncul setelah 7-10 anak membawa bibit pohon untuk ditanam. Harapan akan udara yang kembali segar pun terbuka setelah tumbuh pohon-pohon yang menopang kehidupan manusia.Pohon-pohon di hutan yang tadinya terbakar kembali tumbuh dengan lebih tinggi, menyiratkan makna bahwa kehidupan manusia harus berdampingan dengan alam.KOMPAS.COM/AKHMAD DHANI Aksi teatrikal yang ditampilkan anak-anak terkait dampak karhutla bagi kehidupan di Kalteng di Wisata Air Hitam, Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu . Puluhan anak tersebut merupakan warga lokal di Kecamatan Sebangau, yang dekat dengan lokasi Taman Nasional Sebangau (TNS).TNS merupakan salah satu kawasan gambut terbesar dan terpenting di dunia.Baca juga: Palangka Raya Catat 150 Kejadian Karhutla, Pemkot Waspada Bencana Susulan Imbas Cuaca PanasAnak-anak itu merupakan bagian dari Sebangau Rangers, yakni sebuah inisiatif komunitas lokal di Kalteng yang berfokus pada konservasi lingkungan, khususnya di sekitar TNS dan area gambut di sekitarnya.Istilah “Rangers” merujuk pada para penjaga, pengawas, atau aktivis lingkungan yang secara sukarela melakukan kegiatan pelestarian.Aksi teatrikal tersebut merupakan bagian pembuka dari kegiatan Festival Anak Sebangau 2025 yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Taman Wisata Air Hitam Sebangau oleh Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI) atau Borneo Nature Foundation (BNF).Koordinator Edukasi YBNI, Agus Damanik menjelaskan, 60-an anak itu menceritakan kehidupan anak-anak di sekitar TNS yang tak luput dari ancaman karhutla.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Angkringan Balap Paseban viral karena keragaman menu dan suasananya yang selalu ramai.Menu andalan berupa nasi kucing dengan pilihan lauk seperti tempe, sambal usus, sambal teri, hingga ayam geprek menjadi favorit pengunjung.Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, berkisar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per item. Angkringan ini buka mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.Tingginya minat pengunjung membuat antrean kerap terbentuk bahkan sebelum jam buka. Datang lebih awal menjadi strategi utama untuk mendapatkan tempat duduk dan pilihan menu yang masih lengkap.Mangut Lele Mbah Marto menjadi representasi kuliner tradisional Yogyakarta yang bertahan di tengah tren kekinian.Warung ini dikenal dengan konsep pawon atau dapur tradisional yang bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.Kompas.com/Silvita Agmasari Mangut lele yang dijual di warung Mbah Marto, Bantul, Yogyakarta.Lele yang digunakan tidak digoreng, melainkan diasap terlebih dahulu dengan tusukan pelepah daun kelapa sebelum dimasak menjadi mangut.Metode pengasapan ini menghasilkan aroma khas dengan cita rasa manis dan gurih yang kuat. Mangut lele disajikan dengan kuah santan pedas yang menjadi ciri khas masakan tradisional Jawa.Baca juga: Itinerary Kulineran Serba Legendaris di Yogyakarta Bujet Rp 150.000Mangut Lele Mbah Marto berlokasi di Jalan Sewon Indah, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Sewon, Bantul.Warung ini buka mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Harga mangut lele dibanderol sekitar Rp 25.000 per porsi. Karena peminatnya tinggi, pengunjung disarankan datang lebih awal agar tidak kehabisan.Bagi pencinta kuliner pagi, Sate Koyor Yu Ira menjadi tujuan wajib. Warung sederhana ini telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan berlokasi di kawasan Pasar Ngasem, pusat aktivitas warga sejak dini hari.Tribun Jogja/Hamim Thohari Sate koyorMenu andalannya adalah sate koyor, bagian urat sapi yang diolah hingga empuk dan kaya rasa.Harga sate koyor dibanderol mulai Rp 10.000, menjadikannya pilihan terjangkau bagi pengunjung pasar maupun wisatawan.Warung Yu Ira buka mulai pukul 05.00 hingga 15.00 WIB. Waktu paling ramai terjadi pada pagi hari, seiring aktivitas pasar yang padat.Datang sebelum pukul 09.00 WIB menjadi waktu ideal untuk menikmati menu favorit tanpa harus menunggu lama.

| 2026-02-03 03:52