BEKASI, KOMPPAS.com – Daya tampung TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat kian menipis dan Antrean truk sampah tak juga berkurang.Di tengah kondisi itu, para pakar menilai Jakarta tak lagi punya pilihan, selain mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern.Intermediate Treatment Facility (ITF) dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dipandang bukan sekadar pelengkap, tetapi penentu arah masa depan pengelolaan sampah Jakarta.“Bantargebang sudah sangat lama beroperasi dan berkali-kali menimbulkan bencana sampah. Kapasitasnya semakin terbatas, sementara volume sampah Jakarta terus bertambah,” ujar Pengamat Perkotaan Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Baca juga: Truk Antre Belasan Jam di Bantargebang, DPRD Minta Sopir Difasilitasi Tempat Istirahat“Mau tidak mau, intervensi teknologi pengolahan sampah harus menjadi pilihan utama, bukan lagi opsional,” lanjut dia.Setiap hari, sekitar 7.000–7.800 ton sampah dari Jakarta masuk ke Bantargebang.Angka ini relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan bahwa laju timbulan sampah belum pernah benar-benar melambat.Sementara itu, ruang landfill terus menyempit, ketinggian gunungan sampah bertambah, dan risiko lingkungan ikut membesar.Aziz menilai antrean panjang truk sampah bukan sekadar persoalan teknis di lapangan, melainkan cerminan masalah struktural dalam sistem persampahan.“Kuantitas sampah terus meningkat, sementara kapasitas pengolahan dan infrastrukturnya tidak memadai. Ini menandakan kurangnya perencanaan dan pengelolaan sampah yang efektif,” kata dia.Baca juga: Di Balik Gunungan Sampah Bantargebang, 6.300 Pemulung Bertaruh Nyawa Demi HidupDalam kondisi tersebut, Bantargebang tak lagi bisa diposisikan sebagai solusi utama.Fungsinya perlu diubah menjadi tempat pembuangan residu akhir, yakni hanya menerima sisa sampah yang benar-benar tidak bisa diolah.Perubahan itu, menurut Aziz, hanya mungkin terjadi jika Jakarta memiliki ITF yang berfungsi optimal.Di fasilitas ini, sampah dipilah, diproses, dan direduksi volumenya melalui berbagai teknologi, mulai dari RDF, pengomposan, hingga PLTSa.“Kalau kita hanya mengandalkan RDF plant dan pemilahan yang ada sekarang, itu baru menyelesaikan masalah jangka pendek. Sampah akan terus bertambah. Yang kita perlukan adalah solusi berdimensi jangka panjang,” kata Aziz.
(prf/ega)
ITF dan PLTSa, Pertaruhan Jakarta Keluar dari Krisis Sampah
2026-01-13 06:34:13
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 06:33
| 2026-01-13 04:25
| 2026-01-13 04:20
| 2026-01-13 04:16










































