Waka DPR Tinjau Karangligar Karawang, Tuntaskan Masalah Banjir

2026-01-16 07:43:37
Waka DPR Tinjau Karangligar Karawang, Tuntaskan Masalah Banjir
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa kembali menemui warga Desa Karangligar, Teluk Jambe Barat, Karawang, yang selama dua dekade terakhir hidup berdampingan dengan banjir. Kunjungannya kali ini dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan sejumlah anggota Komisi V DPR untuk meninjau lokasi calon pembangunan infrastruktur pengendali banjir.Saan sendiri diketahui terakhir menyambangi Karangligar pada Maret 2025. Warga pun berharap kedatangannya kali ini membawa solusi konkret atas persoalan yang sudah mereka hadapi selama 20 tahun.Dalam kunjungannya, ia melihat langsung titik rencana pembangunan pintu air hingga tanggul yang diyakini bakal menjawab akar persoalan banjir di wilayah tersebut."Sebenarnya sudah tahun yang lalu kita mencari solusi. BBWS Citarum dan Kementerian PU akhirnya melihat lapangan, kita berkomitmen membikin yang namanya pengendali banjir yang mulai tahun ini sudah mulai dikerjakan. Sehingga tahun depan bisa terselesaikan akar masalah dari banjir ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).Saan menegaskan, dampak banjir terhadap sawah warga bukan hanya kerugian lokal, melainkan juga nasional. Sebab, Kabupaten Karawang merupakan salah satu lumbung pangan yang menjadi andalan produksi beras di Indonesia.Ia pun berharap pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Karangligar dapat segera terwujud sehingga warga bisa kembali beraktivitas dengan rasa aman."Harapannya tentu masyarakat terbebas banjir sehingga mereka punya kepastian menjalankan kehidupannya. Dia ada rasa tenang, nyaman, tidak ada kekhawatiran tiba-tiba banjir. Yang dimiliki mereka hasil kerja kerasnya hilang hanyut dibawa banjir," tutupnya.Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, banjir di Karangligar bisa terjadi 20-30 kali setahun. Saat musim hujan, frekuensinya meningkat hingga 4-5 kali dalam sebulan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang juga melaporkan bahwa banjir turut menyebabkan kerugian signifikan pada sektor pertanian.Simak juga Video Pramono: Bantaran Kali Krukut Sepanjang 1,3 Km Akan Dinormalisasi[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 07:05