Musibah Sumatera, Gambaran dari Sesat Pikir dalam Mengejar Pertumbuhan Ekonomi

2026-01-12 18:28:46
Musibah Sumatera, Gambaran dari Sesat Pikir dalam Mengejar Pertumbuhan Ekonomi
BENGKULU, - Guru Besar Sosiologi Ekologi, Universitas Bengkulu, Prof. Panji Suminar, merefleksikan banjir di Pulau Sumatera serta musibah nasional lainnya merupakan imbas sesat pikir dalam mengejar pertumbuhan ekonomi."Ada sesat pikir pembangunan yakni mengejar pertumbuhan ekonomi yang fantastis seperti pertumbuhan 8 persen," kata Panji Suminar saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa . Menurutnya, imbasnya sesat pikir ini semua dilakukan termasuk menghalalkan ekspoloitasi Sumber Daya Alam (SDA) berlebihan."Ini telah dilakukan Indonesia berpuluh-puluh tahun," kata Panji Suminar ditemui di ruang kerjanya, Selasa .Baca juga: Pakar Soroti Komunikasi Pusat-Daerah Buruk, Deteksi Dini Bencana Sumatera Jadi Sia-siaPemerintah terfokus pada pertumbuhan ekonomi namun abai pada pemerataan ekonomi.Padahal secara sosiologi, kebutuhan rakyat saat ini masih berkelindan pada pemenuhan hak dasar seperti sandang, pangan dan papan."Masih banyak rakyat kelaparan kenapa tidak fokus saja pada pemerataan pembangunan bukan mengejar angka pertumbuhan," ungkap dia.Lebih lanjut ia menjelaskan, fokus negara pada pertumbuhan ekonomi mengakibatkan kerusakan pada lingkungan.ERLANGGA BREGAS PRAKOSO Foto udara menampilkan tumpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat . Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju Desa Tanjung Karang masih terhambat akibat banyaknya tumpukan pohon dan lumpur tebal dari Sungai Tamiang sehingga bantuan sulit masuk ke wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/foc.Ia mengutip teori yang dikemukakan Karl Marx yakni "Keretakan Metabolik"."Keretakan metabolik merujuk pada pemisahan antara manusia dan alam yang disebabkan logika kapitalisme. Dalam logika kapitalisme proses produksi dipusatkan di perkotaan dipisahkan dari lahan pertanian lalu terjadi disrupsi siklus ekologi alami," beber dia.Ia mencontohkan, tanah kehilangan kesuburan karena unsur hara yang terkandung dalam hasil panen tidak kembali ke tanah, melainkan diperdagangkan di pasar jauh dari sumbernya.Kondisi ini menggambarkan bagaimana kapitalisme menciptakan keretakan ekologis berimplikasi pada kerusakan lingkungan.Baca juga: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Bencana Sumatera? Ini Kata Pakar Lingkungan UI"Banjir di Aceh, Sumut dan Sumbar, contoh nyata dari keretakan metabolik. Hutan ditebang, unsur hara tanah hilang, kesolidan tanah rusak, longsor banjir merupakan implikasinya. Membunuh ratusan rakyat di sekitar lokasi eksploitatifnya," tegasnya.Ia katakan eksploitasi SDA demi laba merupakan ciri utama kapitalisme sehingga alam direduksi sebagai komoditas.Hutan tidak lagi dipandang sebagai sebagai sistem yang menopang kehidupan melainkan sekedar "kayu" yang dieksploitasi secara ekonomi.ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso Warga melintasi jalan akses antardesa pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu . Akses penghubung Desa Tanjung Karang dan Desa Menang Gini yang sempat tertutup tumpukan kayu gelondongan akhirnya bisa terbuka usai pemerintah mengerahkan alat berat untuk pembersihan sehingga mobilitas masyarakat, termasuk distribusi bantuan menjadi bisa dilakukan.


(prf/ega)