Jalan Membangun Ekosistem Sekolah yang Humanis

2026-02-02 10:33:58
Jalan Membangun Ekosistem Sekolah yang Humanis
Peristiwa ledakan di SMA 72 Jakarta mengejutkan banyak pihak. Tentu peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai tindakan individual, seolah ada satu siswa yang bermasalah, satu guru yang lalai, atau satu keluarga yang tidak harmonis.Padahal, ledakan bom di sekolah adalah gejala yang menyingkap rapuhnya ekosistem pendidikan kita.Berbagai Informasi awal menunjukkan bahwa pelaku bukan bagian dari jaringan teroris, melainkan siswa yang meniru konten digital bermuatan kekerasan dan dipratikkan di sekolah.Motifnya dilatari oleh rasa kesepian, kehilangan ruang berkeluh kesah, atau pengalaman penindasan atau bullying menandai adanya keretakan dalam interaksi dan relasi sosial di sekolah dan keluarga.Untuk memahami krisis ini, setidaknya ada dua dimensi masalah yang saling berkelindan: krisis interaksi dan relasi sosial dan krisis literasi dan pengawasan digital.Interaksi dan Relasi guru-siswa serta orang tua-anak kini kian dangkal secara emosional. Berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen yang mendampingi mahasiswa praktik mengajar di sekolah-sekolah menengah negeri di Jakarta, banyak sekolah menghadapi persoalan serius dalam distribusi guru yang tidak proporsional antar mata pelajaran.Ada sekolah yang mengalami kelebihan guru di bidang mata pelajaran tertentu, sementara bidang lain justru kekurangan guru. Kondisi ini disebabkan lemahnya pemetaan kebutuhan guru yang aktual di tiap sekolah.Di sekolah yang kekurangan tenaga pengajar, beban kerja guru menjadi over load. Waktu mereka habis untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, sehingga ruang untuk refleksi, komunikasi personal, dan pendampingan emosional menjadi sangat terbatas.Kondisi ini semakin kompleks ketika kapasitas sekolah negeri yang jumlahnya stagnan. Data BPS (2024) menunjukkan bahwa jumlah sekolah negeri di Indonesia hanya naik tipis, dari 6.987 menjadi 7.049 unit.Di DKI Jakarta, jumlah SMA Negeri tidak berubah, tetap 117 sekolah, sementara jumlah siswa terus meningkat. Akibatnya, satu sekolah dapat menampung tujuh hingga delapan kelas per jenjang, yang berarti perhatian guru terhadap setiap siswa semakin menipis.Dalam tekanan administratif dan tuntutan reputasi akademik, fokus pendidikan bergeser menjadi perlombaan nilai. Keberhasilan sekolah diukur dari capaian akademik, rangking, dan peluang siswa masuk perguruan tinggi papan atas.Sebagian orang tua memperkuat orientasi ini dengan menilai angka rapor sebagai indikator utama keberhasilan anak.Di tengah ekosistem yang serba angka, ruang interaksi bermakna antara guru, siswa, dan keluarga makin berkurang. Relasi sosial di sekolah kehilangan kedalaman, kedekatan, dan kehangatan yang mestinya menopang tumbuhnya kematangan emosional dan sosial siswa.Ketika sekolah dan keluarga terbatas menyediakan ruang dialog yang hangat, siswa mencari pelarian di media sosial. Algoritma digital, yang kerap menampilkan konten ekstrem atau kekerasan, secara perlahan membentuk pola pikir dan emosional mereka.Di banyak kasus, gadget menjadi "pendamping setia" yang lebih sering berinteraksi dengan siswa dibanding guru atau orang tuanya. Tanpa pendampingan yang memadai, aneka macam konten, termasuk yang mengandung kekerasan dapat menjadi rujukan identitas dan pemaknaan dunia siswa.Dengan demikian, krisis pendidikan kita tidak hanya berpangkal pada sekolah yang kehilangan fungsi humanis, tetapi juga pada arus informasi digital yang tak terkendali.Secara sosiologis tekanan sistemik semacam ini dapat melahirkan kekerasan simbolik-sebagaimana dijelaskan Pierre Bourdieu-muncul sebagai mekanisme dominasi yang bekerja secara halus dan tak kasat mata (Bourdieu, 1992).Kekerasan simbolik tidak hanya berlangsung dari guru kepada siswa, tetapi juga dapat terjadi di antara sesama siswa, dari orang tua kepada anak, bahkan dari institusi sekolah kepada seluruh warganya melalui aturan, bahasa, dan standar yang dianggap "wajar".Ketika sekolah hanya menilai keberhasilan melalui angka, siswa yang tidak memenuhi standar akademik akan terpinggirkan secara simbolik: dianggap kurang cerdas, malas, atau tidak kompetitif.Siswa juga dapat mengalami kekerasan simbolik Ketika kelompok siswa tertentu mendominasi temannya melalui ejekan, standar pergaulan, atau simbol-simbol status yang dilegitimasi oleh kultur sekolah.Guru pun dapat mengalami kekerasan simbolik ketika dibebani administrasi, tuntutan prestasi, dan penilaian kinerja yang serba kuantitatif. Ruang profesionalitasnya mengecil, namun tuntutannya makin membesar.Kekerasan simbolik inilah yang perlahan memutus kedekatan emosional dan menggerus rasa aman di sekolah. Dalam kondisi tertentu, tekanan emosional yang berlapis-lapis ini bisa menjadi pemantik bagi kekerasan fisik di arena sekolah.Menghadapi krisis sosial pendidikan hari ini, solusi tidak bisa lagi bersifat reaktif-misalnya sekadar menambah guru konseling atau mengadakan kegiatan seremonial. Yang dibutuhkan adalah penguatan ekosistem pendidikan secara menyeluruh.Sekolah harus dikembalikan sebagai ruang dialog yang menghargai martabat manusia, tempat guru, siswa, dan orang tua bisa bertemu secara rutin untuk berbagi pengalaman, tekanan, dan evaluasi tanpa rasa saling menghakimi.Tekanan administratif guru-mulai dari laporan, akreditasi, hingga perlombaan angka-angka-perlu dievaluasi secara serius. Selama beban ini terus menumpuk, guru akan sulit memiliki ruang emosional untuk hadir secara hangat dan manusiawi bagi siswanya.Padahal, pendampingan emosional justru menjadi kebutuhan paling mendesak di tengah kerentanan remaja yang hidup dalam ekosistem digital yang serba cepat dan intens hari ini.Memulihkan ekosistem pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Kompleksitas persoalan siswa hari ini membutuhkan kolaborasi lintas profesi-psikolog, pekerja sosial, konselor digital, serta lembaga pemerhati anak-sebagai bagian sistematis dari pendidikan, bukan sekadar "panggilan darurat".Pada akhirnya, orientasi pendidikan harus digeser dari kontestasi akademik menuju pembentukan karakter, empati, dan kecakapan sosial-emosional.Selama kesuksesan masih didefinisikan oleh nilai, ranking, dan akses ke perguruan tinggi bergengsi, sekolah akan terus memproduksi tekanan yang berpotensi melahirkan kekerasan simbolik hingga fisik.Pendidikan yang humanis hanya mungkin lahir jika sekolah kembali menjadi ruang tumbuhnya akal sehat, kedewasaan emosional, serta hubungan sosial yang saling menjaga.Achmad Siswanto. Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi FISH UNJ. Saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor di Prodi Sosiologi Pedesaan, IPB University. Tonton juga video "Puan Minta Kasus Bullying di Sekolah Tak Terulang: Ini Darurat"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 10:34