Tak Diberi Kesempatan Bicara Tiga Menit di Sidang, Delpedro Kecewa

2026-02-04 16:56:41
Tak Diberi Kesempatan Bicara Tiga Menit di Sidang, Delpedro Kecewa
JAKARTA, – Terdakwa dugaan penghasutan aksi demonstrasi akhir Agustus 2025, Delpedro Marhaen, mengungkapkan kekecewaannya setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.Kekecewaan itu ia utarakan usai Majelis Hakim menolak memberikan kesempatan baginya untuk menanggapi jawaban jaksa penuntut umum (JPU) atas eksepsi yang diajukan tim kuasa hukum, Senin .“Kami cukup kecewa dengan sikap Majelis Hakim yang tidak memberikan kami kesempatan untuk berbicara,” kata Delpedro kepada wartawan usai persidangan, Senin.Baca juga: Tak Diberi Kesempatan Bicara di Sidang, Delpedro: Setiap Hari Saya Bicara dengan TembokDelpedro menyebutkan, penolakan tersebut membuatnya tidak bisa menyampaikan kritik terhadap tanggapan jaksa yang dinilai berulang dan tidak menjawab substansi eksepsi.Menurut dia, jaksa hanya meminta perkara dilanjutkan ke tahap pembuktian tanpa memberikan kejelasan atas keberatan yang diajukan pihak terdakwa.nIa menilai sikap tersebut menunjukkan jaksa tidak meyakini alat bukti yang digunakan dalam dakwaan.“Kami siap untuk melakukan pembuktian, tapi persoalannya bukan di situ. Kami telah dipenjara selama lima bulan. Kemudian Jaksa ragu sendiri dengan barangnya, yang mengatakan bahwa, ‘Silakan nanti kita buktikan di pembuktian,’” tutur dia.Delpedro menegaskan, perkara yang menjeratnya tidak semata-mata persoalan hukum pidana, melainkan juga berkaitan dengan peristiwa politik yang lebih luas. Karena itu, ia mendorong agar jaksa tidak memandang kasus ini secara sempit.Ia juga meminta jaksa melakukan pembuktian secara adil, termasuk mengungkap pihak-pihak yang diduga menjadi dalang di balik kerusuhan dalam rangkaian demonstrasi akhir Agustus 2025.Para terdakwa, kata Delpedro, bahkan siap membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap aktor yang diduga memiliki kendali politik besar dalam peristiwa tersebut.Baca juga: Kecewa Tanggapan JPU, Delpedro: Perkara Penghasutan Demo Bukan Soal 4 Orang, tapi...“Kami mendorong Jaksa bukan hanya melihat peristiwa ini sebagai peristiwa hukum yang kaku. Tapi sebagai peristiwa yang berkaitan dengan politik. Kami menantang sebenarnya kepada Kejaksaan untuk berani membongkar siapa dalang peristiwa itu,” tantang Delpedro.Sementara itu, kuasa hukum Delpedro, Sekar, menyampaikan tanggapan JPU tidak membantah eksepsi yang diajukan secara spesifik.“Bahwa eksepsi kami solid, eksepsi kami adalah hal yang terbaik yang sudah kami lakukan. Karena tadi di jawaban JPU sebenarnya membuktikan bahwa JPU sendiri tidak bisa menjawab dari eksepsi tersebut,” ujarnya.Menurut Sekar, dakwaan jaksa tidak jelas dan hanya meneruskan hasil penyidikan kepolisian tanpa analisis mendalam. Karena itu, ia menilai dakwaan tersebut seharusnya batal demi hukum.Ia bahkan menyebut jaksa hanya menjalankan peran formal sebagai perantara berkas perkara dari kepolisian ke pengadilan.“Apa yang tidak bisa dijawab oleh Jaksa Penuntut Umum, itu menunjukkan bahwa benar-benar dakwaan ini adalah dakwaan yang obscuur, dan dakwaan yang sebenar-benarnya hanya mengamini apa yang sudah disampaikan oleh polisi dari proses penyidikan sebelumnya,” tutur Sekar.Baca juga: Abaikan Eksepsi Delpedro dkk, JPU Minta Sidang Dilanjut ke Pembuktian


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

“Fitur ini dapat memberi kendali kepada pengguna untuk menetapkan batas waktu menonton Shorts. Intervensi kecil seperti ini penting untuk membantu anak dan remaja belajar mengatur diri, jelas Graham.Pantauan KompasTekno, area Mental Health Shelf dan fitur pembatasan Shorts memang sudah bisa dijajal di Indonesia.Seperti disebutkan di atas, rak Mental Health Shelf yang dilabeli From health sources akan muncul ketika pengguna memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit mental.Baca juga: MTV Tutup Lima Channel Musik Akhir 2025, Tergeser YouTube dan Medsos?Sementara fitur pembatasan YouTube Shorts bisa diakses melalui menu pengaturan, tepatnya Settings > Time management > dan Shorts feed limit./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja mengatakan kedua fitur ini merupakan komitmen YouTube untuk membantu remaja Indonesia membangun kebiasaan digital yang lebih sehat serta mengakses informasi yang lebih bertanggung jawab.Di Indonesia, Suwandi menyebut kesehatan mental remaja akan menjadi salah satu fokus dan perhatian YouTube di Indonesia.“Kami sangat serius dengan komitmen kami soal kesehatan mental, dan ini akan menjadi topik yang akan terus menjadi fokus YouTube ke depannya,” kata Suwandi./Bill Clinten Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja dalam acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Meski jadi fokus YouTube di masa depan, Suwandi menambahkan bahwa dukungan kreator dan pakar menjadi elemen penting agar komitmen ini juga bisa dijalankan dengan baik.Baca juga: YouTube Sulap Video Burik Lawas Jadi Bening dengan AI“Kami membutuhkan bantuan dan kerja sama untuk melanjutkan komitmen kami dan program terkait kesehatan mental di masa depan, sekaligus memperluas jangkauannya,” pungkas Suwandi.

| 2026-02-04 15:51