BRIN: PLTSa hingga RDF Belum Ampuh Kurangi Beban Sampah di Bantargebang

2026-01-14 05:44:50
BRIN: PLTSa hingga RDF Belum Ampuh Kurangi Beban Sampah di Bantargebang
JAKARTA, - Gunungan sampah di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, hingga kini masih menjadi persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.Selama puluhan tahun, tumpukan sampah tersebut telah menjadi beban ekologis bagi wilayah Jabodetabek dan seharusnya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik masyarakat maupun pemerintah.Tanpa dukungan masyarakat, persoalan sampah di Bantargebang tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendirian.Baca juga: Di Balik Gunungan Sampah Bantargebang, 6.300 Pemulung Bertaruh Nyawa Demi HidupPasalnya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari pembangunan fasilitas composting plant hingga pabrik pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengurangi timbunan sampah di Bantargebang.Namun, berbagai upaya tersebut hingga kini belum mampu menurunkan volume sampah secara signifikan. Bahkan, ketinggian gunungan sampah di Bantargebang dilaporkan telah mencapai sekitar 70 meter.Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Sri Wahyono, mengatakan, pengomposan atau composting di TPST Bantargebang sudah berjalan sejak 2003 silam."Saat itu diinisiasi karena adanya program subsidi kompos WJEMP (West Java Environment Management Project)," ucap Sri ketika diwawancarai Kompas.com, Jumat ./ SHINTA DWI AYU Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau.Proses pengomposan memanfaatkan sampah organik dari pasar, yakni sisa sayuran hingga buah-buahan yang diolah di composting hall Bantargebang. Teknologi yang digunakan adalah sistem windrow, yakni sampah ditumpuk memanjang dan diaduk secara berkala menggunakan alat berat berupa ekskavator.Satu siklus pengomposan berlangsung sekitar 1,5 hingga 2 bulan hingga material benar-benar matang. Dari proses tersebut dihasilkan pupuk organik kompos curah dan pupuk organik granul (POG).Pada masa lalu, produksi POG sempat menjadi salah satu pemasok program subsidi pupuk organik granul Kementerian Pertanian.Namun, saat ini aktivitas pengomposan di Bantargebang kurang mendapat perhatian karena kontribusinya terhadap pengurangan beban landfill dinilai masih terbatas.Hal itu disebabkan proses pengomposan sangat bergantung pada ketersediaan sampah organik yang relatif bersih dan membutuhkan waktu pengolahan yang cukup panjang.Baca juga: Hidup dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Limbah PlastikSementara itu, sebagian besar sampah organik yang masuk ke Bantargebang sudah tercampur dengan jenis sampah lainnya, sehingga sulit diolah menjadi kompos.Sri mengatakan, pilot project PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) Merah Putih di TPST Bantargebang merupakan pilot Waste-to-Energy berbasis insinerator yang dikembangkan pada 2018 oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang sekarang lebur menjadi BRIN."Sebagai pilot project insinerator kapasitas terpasangnya tentu kecil, yaitu 100 ton sampah per hari dengan produksi listrik 700 kW," ungkap Sri.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 03:54