Cerita KPM di Pemalang yang “Naik Kelas”: Tak Lagi Terima BLT dan Siap Mandiri

2026-01-11 03:21:12
Cerita KPM di Pemalang yang “Naik Kelas”: Tak Lagi Terima BLT dan Siap Mandiri
PEMALANG, – Senyum Fatimah Tulzahro tampak mengembang saat namanya disebut sebagai salah satu dari 1.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Pemalang yang resmi “naik kelas”.Setelah beberapa tahun menerima bantuan sosial akibat terdampak pandemi, kini ia masuk dalam program pemberdayaan usaha dan keterampilan.Momen graduasi KPM itu berlangsung di Pendopo Pemerintah Kabupaten Pemalang, Senin , dan disaksikan langsung oleh Menteri Sosial RI Syaifulloh Yusuf.Pemalang menjadi salah satu dari sepuluh kabupaten miskin ekstrem yang kini menjalankan program peralihan status dari penerima bantuan menuju penerima pemberdayaan.Baca juga: Kisah Lukman, Lulus Program PKH Berkat Usaha Kerupuk, Kini Berdayakan 18 KPMMenurut Mensos, ada tiga tahapan yang diberikan kepada KPM, mulai dari perlindungan, jaminan sosial, hingga pemberdayaan sosial.“Bulan ini ada 77 ribu KPM di seluruh Indonesia yang sudah menjalani graduasi, termasuk 1.000 KPM di Pemalang. Saya lihat banyak yang senang,” ujar Gus Ipul, Senin.Fatimah menjadi salah satu yang merasakan perubahan itu. Terdaftar sebagai KPM sejak pandemi 2020, ia mengaku tidak keberatan berhenti menerima bansos.Sebaliknya, ia justru merasa lega karena kini mendapat kesempatan untuk belajar keterampilan baru.Dalam kesehariannya, Fatimah bekerja sebagai pedagang kantin sekolah, sementara suaminya menjadi tukang kebun di sekolah yang sama.Dengan program pemberdayaan, ia optimistis bisa menambah penghasilan tanpa terus menggantungkan hidup pada bantuan tunai.“Kedepannya, monggo benar-benar diseleksi kembali yang berhak dan yang tidak. Biar yang seperti kami tidak merasakan lagi. Mohon maaf,” ujarnya lirih.Baca juga: Alasan 10.000 Warga Magetan Tak Layak Terima BLT, Ada yang Tersandung Judi OnlineKompas.com/Dedi Muhsoni Mensos Gus Ipul mewujudkan 1000 KPM menjadi pemberdayaan usahaSelain mengikuti prosesi graduasi, rombongan Kementerian Sosial juga meninjau Desa Bojongnangka, Kecamatan Pemalang.Di desa ini, puluhan warga—kebanyakan ibu rumah tangga—mengolah pelepah pisang menjadi rajutan dan anyaman bernilai jual tinggi. Produk mereka telah diterima pasar dalam dan luar negeri.Kepala Desa Bojongnangka, Wahmu, menjelaskan bahwa pemberdayaan berbasis keterampilan itu sudah berjalan sebelum graduasi resmi dilakukan.Sedikitnya 20 warga telah terlebih dahulu dilatih merajut menggunakan tali dari pelepah pisang yang telah dikeringkan.“Kami tidak takut kekurangan bahan baku, meski banyak pesanan. Ke depan, pelatihan terus kami tambah agar warga bisa meningkatkan penghasilan,” kata Wahmu.Program graduasi di Pemalang menjadi gambaran bahwa masyarakat tak hanya dihapus dari daftar penerima bansos, tetapi juga disiapkan untuk berdiri lebih kuat secara ekonomi.Seperti Fatimah dan para perajin di Bojongnangka, mereka perlahan menjalani perjalanan baru menuju kemandirian.


(prf/ega)