QRIS Tak Sekadar Kode, Tapi Simbol Revolusi Ekonomi Digital Indonesia

2026-01-12 02:57:50
QRIS Tak Sekadar Kode, Tapi Simbol Revolusi Ekonomi Digital Indonesia
JAKARTA, - Dulu hanya dikenal sebagai kode hitam-putih di meja kasir UMKM, kini Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjelma menjadi simbol perubahan besar dalam cara masyarakat Indonesia bertransaksi.Bahkan, QRIS menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.Lima tahun sejak diluncurkan lewat Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2019-2025, QRIS bukan lagi sekadar alat bayar.Ia kini menjadi jembatan ekonomi antara pedagang pasar tradisional dan pelaku ekonomi global.Baca juga: Penggunaan QRIS Naik Signifikan, Kunci Digitalisasi Pembayaran di IndonesiaDari tukang kopi di Toba hingga perajin batik di Pekalongan, semua bisa menerima pembayaran digital hanya lewat satu kode.Kini, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan asosiasi menegaskan arah masa depan transformasi ekonomi digital nasional melalui Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025.Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut pelaksanaan FEKDI x IFSE 2025 merupakan komitmen bersama untuk mempercepat transformasi ekonomi dan keuangan digital.“Melalui FEKDI x IFSE 2025, kita terus melakukan strategi akselerasi digitalisasi ekonomi keuangan digital secara nasional melalui perluasan akseptasi, inovasi, penguatan struktur industri, dan menjaga stabilitas infrastruktur,” ujar Perry lewat keterangan pers di Jakarta, Selasa .Kolaborasi lintas negara, serta integrasi teknologi pembayaran di sektor publik dan transportasi, menjadi bukti bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar inisiatif keuangan, melainkan gerakan nasional menuju efisiensi dan pemerataan.QRIS, yang dulu diperkenalkan sebagai alat pembayaran nontunai bagi ritel dan UMKM, kini tumbuh menjadi simbol keterhubungan ekonomi digital Indonesia.Pengembangannya ke lintas negara membuka potensi perluasan jangkauan pelaku usaha ke pasar regional, sementara penerapan teknologi tap in-tap out di transportasi memperlihatkan bagaimana sistem pembayaran modern menyatu dengan rutinitas masyarakat.Evolusi itu, menurut dia, menegaskan bahwa inklusivitas digital bukan hanya tentang akses, tetapi juga tentang pengalaman transaksi yang semakin menyatu dalam kehidupan sehari-hari.Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebut pentingnya sinergi antarotoritas untuk mencapai transformasi digital yang sesungguhnya.Dirinya menyebut kolaborasi antara BI, OJK, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan asosiasi industri sebagai tonggak penting dalam perjalanan digitalisasi nasional.Menurutnya, inovasi tanpa arah hanya akan menjadi euforia sesaat, sementara inovasi yang bersinergi justru menjadi fondasi menuju transformasi digital yang berkelanjutan.


(prf/ega)