ACEH TAMIANG, - Mulyono tidak berteriak saat istrinya terlepas dari genggaman tangannya ketika banjir melanda wilayah tersebut.Saat itu, arus banjir terlalu deras. Tubuhnya sudah kehabisan tenaga dan air terus menelan apa pun yang dilewatinya.“Istri saya enggak selamat,” katanya pelan, saat ditemui Kompas.com di posko pengungsian, Senin .Peristiwa itu terjadi setelah dua hari dua malam Mulyono bersama keluarganya terjebak banjir di Desa Bundar, Aceh Tamiang, Jumat .Baca juga: 3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi LumpurDia bertahan di atas atap rumahnya yang berbahan seng tanpa makanan dan minuman, sambil menunggu tim SAR yang tak kunjung datang.“Karena tim SAR nunggu tim SAR. Katanya tim SAR balik lagi, kan kami ramai keluarga, dua trip. Terus katanya tim SAR balik lagi (trip tiga), rupanya enggak balik-balik,” ungkap Mulyono.“Kami capek nunggu tim SAR. Katanya balik tim SAR, tapi sampai dua hari enggak balik-balik,” sambungnya.Ketika itu, dua anak Mulyono sudah lebih dulu diselamatkan oleh mertua. Namun, dia, istrinya, dan keponakannya masih tertahan./Tria Sutrisna Masjid di asrama putra Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang masih berdiri kokoh di antaranya tumpukan kayu yang terbawa arus banjir dan tanah longsor, Jumat .Kerinduan sang istri untuk menemui anak-anak menjadi pemicu keputusan mereka menerobos banjir. Keputusan yang akhirnya mengubah hidup keluarga Mulyono selamanya.“Orang rumah sibuk maksa aja kan karena pengen nengok anak, udah dua hari enggak nengok anak. Jadi langsung nekat-nekatan nganyut pakai kulkas,” kata Mulyono.Dalam keputusasaan, mereka memilih menganyutkan diri menggunakan sebuah kulkas.Pintunya dibuka agar bisa dijadikan “perahu” untuk anak dari keponakannya. Tujuan Mulyono beserta istrinya saat itu adalah Gedung DPRD Aceh Tamiang.Baca juga: 3 Pekan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Masih Bergulat Krisis Air Bersih: MCK Sulit, Gimana Mau Masak?Sebab, kebanyakan warga disebut-sebut diarahkan ke tempat tersebut karena lokasi dan bangunannya cukup tinggi.“Nganyut kami, tiga-tiga pegang kulkas. Anak kecil itu taruh di dalam kulkas. Kulkasnya kami buka,” ujarnya.
(prf/ega)
Duka yang Tak Pernah Usai Bagi Mulyono Pascabanjir Aceh Tamiang...
2026-01-13 05:59:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 06:29
| 2026-01-13 05:35
| 2026-01-13 04:40
| 2026-01-13 04:20
| 2026-01-13 04:05










































