Lapis Kedua Menteng, Warga Kolong Tinggal di Trotoar dan Tepi Rel Kereta

2026-01-12 04:50:07
Lapis Kedua Menteng, Warga Kolong Tinggal di Trotoar dan Tepi Rel Kereta
JAKARTA, - Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, tampak tenang pada siang hari.Gedung-gedung pemerintahan dan deretan hunian mewah membentang di sepanjang jalan yang dikenal sebagai jantung kawasan elite Ibu Kota tersebut.Namun, di sela kemewahan itu, ada kehidupan lain yang berjalan di bawah permukaan sosial Jakarta.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaTrotoar sempit, pagar bata penuh grafiti, hingga tepi rel kereta menjadi “rumah” sementara bagi mereka yang kerap disebut sebagai warga kolong, orang-orang yang hidup di jalanan dengan segala keterbatasannya.Di sisi trotoar, beberapa warga duduk bersandar di dinding atau terbaring di tikar tipis. Barang bawaan mereka, tas, kantong plastik, hingga gerobak kayu, menempel di tubuh, seolah seluruh harta yang dimiliki melekat pada kehidupan terbuka yang mereka jalani./Lidia Pratama Febrian Keterbatasan Ekonomi Membuat Warga Kolong di Menteng Tetap Bertahan Meski Tinggal di JalananTak jauh dari lokasi itu, di pinggir rel, tumpukan karung dan kantong plastik hitam tersusun rapi, siap diambil dan dijual kembali. Seorang pria tampak memilah botol-botol bekas, aktivitas yang menjadi sumber nafkah sehari-hari.Dua gerobak kayu besar yang sudah usang juga berfungsi ganda sebagai alat kerja sekaligus tempat penyimpanan.Kehadiran warga kolong di wilayah Menteng hingga Pasar Rumput bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga cerminan ketimpangan urban di Jakarta.Di tengah area strategis yang dikelilingi fasilitas publik, termasuk deretan perkantoran hingga Museum Ahmad Yani, serta hunian kelas menengah ke atas, mereka memanfaatkan celah ruang kota untuk bertahan hidup.Ale (40), warga kolong asal Bogor, Jawa Barat, menuturkan pengalamannya tinggal di tepi rel dekat Jalan Latuharhary.“Saya sudah hampir dua tahun di sini. Awalnya cuma numpang lewat, nyari barang bekas. Lama-lama susah, jadi saya bertahan saja,” ujarnya.Baca juga: Pantai Cilincing Menghilang, Terkubur Gunungan Limbah Kulit KerangSetiap hari Ale berkeliling dari Latuharhary hingga gang-gang dekat Pasar Rumput untuk mencari botol plastik, kardus, dan barang-barang bekas lain.“Kalau sepi, cuma dapat Rp 7.000. Kalau ramai, bisa Rp 15.000 per gerobak,” katanya.Mengenai penertiban, Ale mengaku sudah terbiasa menghadapinya.“Pernah, terutama di kolong jembatan. Kami disuruh pergi, tapi mau ke mana? Ya akhirnya keluar ke pinggir trotoar. Kalau ada razia malam, kami minggir dulu,” tuturnya.


(prf/ega)