Jakarta - Langit sore di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, kala itu perlahan menggelap. Awan hitam menutupi sisa cahaya biru, tanda waktu magrib hampir tiba. Anak-anak berlarian ke Masjid Jami Al-Muflihun, sebagian hendak berbuka puasa, sebagian lain masih bermain di lantai dua. Di antara mereka, ada seorang bocah enam tahun bernama Alvaro Kiano Nugroho.Sore itu, Rabu 6 Maret 2025, adalah kali terakhir kakeknya, Tugimin, melihat senyum Alvaro."Biasanya habis salat Maghrib cucu saya itu langsung pulang,” kenang Tugimin lirih. “Tapi sore itu dia tidak pernah kembali”AdvertisementAlvaro kala itu pamit ke sang Kakek, katanya ingin buka puasa dan salat magrib. Ia memakai kaus dan celana panjang, lalu melangkah ringan menuju masjid di ujung gang. Tak ada firasat buruk. Tugimin, seperti biasa, menunggu di rumah sambil menyiapkan makan malam.Tapi waktu berlalu. Jam menunjukkan pukul delapan malam, kemudian sembilan, lalu hampir setengah sepuluh. Tak ada tanda-tanda sang cucu kembali.Panik, Tugimin pun bergegas ke masjid. Di sana, ia mendapat kabar dari marbot, seorang pria tak dikenal sempat datang menanyakan Alvaro.“Pak, mau nyari siapa?” tanya marbot curiga. “Saya mau nyari anak saya. Namanya Alvaro. Biasanya salat di sini,” kata si pria, menurut cerita marbot.Tak lama setelah percakapan itu, Alvaro tak terlihat lagi. Sejak saat itu, jejaknya hilang.
(prf/ega)
Misteri Hilangnya Bocah Alvaro, Delapan Bulan Belum Ada Titik Terang
2026-01-12 03:44:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:04
| 2026-01-12 03:42
| 2026-01-12 03:41
| 2026-01-12 03:26
| 2026-01-12 02:13










































