Ketua Komisi V DPR Nilai Rp 4 Miliar Per Daerah Banjir Sumatera Tak Cukup

2026-02-01 17:10:51
Ketua Komisi V DPR Nilai Rp 4 Miliar Per Daerah Banjir Sumatera Tak Cukup
JAKARTA, - Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menilai bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 4 miliar untuk setiap kabupaten/kota terdampak bencana di Sumatera tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat maupun pemulihan infrastruktur.Lasarus mengatakan, bantuan yang diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto itu tak sebanding dengan kerusakan di lapangan yang sangat masif akibat banjir dan tanah longsor.“Presiden kan kemarin saya dapat informasi membantu Rp 4 miliar per kabupaten. Rp 4 miliar per kabupaten itu enggak ada apa-apanya deh, kalau untuk lapangan,” ujar Lasarus di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa .Baca juga: Mendagri Usulkan Bantuan untuk Daerah Bencana Rp 2 Miliar, Presiden Tingkatkan Jadi Rp 4 MiliarPolitikus PDI-P itu mencontohkan, anggaran sebesar itu bahkan belum tentu cukup untuk memperbaiki satu titik infrastruktur.“Iya kan? Kita bikin satu boks aja, satu box culvert saja untuk (sepanjang) sungai, itu bisa Rp 4 miliar. Iya kan? Ini ada berapa banyak jembatan yang putus, jalan yang hancur, rumah yang rusak,” kata Lasarus.Selain itu, Lasarus mengingatkan bahwa kemampuan fiskal daerah saat ini juga terbatas karena adanya pemotongan anggaran dari pemerintah pusat.“Terus fiskal daerah kan kita tahu semua, DAK (dana alokasi khusus) dipotong, DAU (dana alokasi umum) dipotong, saya ngomong apa adanya ini,” kata dia.Baca juga: Purbaya Pastikan Anggaran Bencana Aman, Ada Ruang Efisiensi Rp 60 TriliunOleh karena itu, Lasarus mendorong pemerintah pusat mengoptimalkan seluruh pos anggaran yang masih tersisa, termasuk dana di berbagai lembaga pemerintah.Lasarus mencontohkan alokasi anggaran program makan bergizi gratis (MBG) 2025 yang dikabarkan belum terserap 100 persen.Menurut dia, anggaran tersebut sebaiknya dialihkan untuk penanggulangan bencana di Sumatera.“Nah kalau mau, masih ada dana di mana, maka saya pernah ngomong kemarin, sudah keluarkan tuh duit yang ada di BI,” jelas Lasarus.“Kemudian mungkin ada yang di MBG yang tidak terserap sampai tanggal segini, misalnya masih ada sisa berapa ratus miliar misalnya MBG yang belum terserap. Atau masih berapa triliun yang belum terserap misalnya. Ya sudah, semua alokasikan ke lokasi bencana,” sambungnya.Baca juga: Cara Thailand Pangkas Birokrasi Bantuan Banjir agar Dana Cepat Cair ke WargaSaat ditanya apakah bantuan tersebut tidak cukup dan apakah penanganan sebaiknya sepenuhnya diambil alih pusat, Lasarus menegaskan bahwa bantuan Rp 4 miliar per daerah hanya bersifat simbolis dalam rangka memberi dukungan moril kepada para kepala daerah.“Ya, mungkin Rp 4 miliar itu sebagai bentuk buah tangan Pak Presiden lah ya. Tapi bahwa itu untuk menyelesaikan tanggap darurat, ya jauh panggang dari api lah, Mas, gitu loh,” kata politikus PDI-P tersebut.“Ya itu hanya untuk membangun satu jembatan kecil saja, Rp 4 miliar itu belum tentu selesai. Sementara ada ratusan jembatan, bahkan mungkin ribuan jembatan yang putus, termasuk juga gorong-gorong dan seterusnya,” lanjut Lasarus.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-01 17:22