Ini Peran Penting Penemuan Cadangan Gas Bumi bagi Ketahanan Ekonomi RI

2026-01-12 12:01:53
Ini Peran Penting Penemuan Cadangan Gas Bumi bagi Ketahanan Ekonomi RI
JAKARTA, – Penemuan cadangan gas bumi dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi, ketahanan energi, dan mempercepat transisi energi nasional.ReforMiner Institute mencatat bahwa aktivitas eksplorasi migas kini semakin didominasi oleh temuan gas, termasuk Layaran-1, Timpan-1, Geng North-1, hingga South CPP, dengan total cadangan terbukti dan potensial mencapai 51,98 TCF hingga Juni 2025.Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan dominasi temuan gas bumi menunjukkan besarnya peluang bagi Indonesia untuk mengamankan pasokan energi sekaligus menjaga arah kebijakan ekonomi hijau.“Gas bumi merupakan energi fosil yang paling relevan untuk menopang ketahanan energi nasional dan transisi menuju ekonomi hijau,” ujar Komaidi dalam catatan Reforminer, dikutip Kamis 6/11/2025).Baca juga: Cadangan Gas RI Terbesar se-Asia Tenggara, tapi Tantangannya Monetisasinya Juga BanyakStudi ReforMiner menunjukkan industri hulu gas terhubung dengan sekitar 113 dari 185 sektor ekonomi, sehingga memberikan multiplier effect sebesar 6,56 kali dari nilai investasi.Nilai linkage index sebesar 3,12 juga mencerminkan kuatnya keterkaitan industri hulu gas dengan sektor-sektor pendukung serta penggunaannya di berbagai sektor ekonomi.Dari sisi fiskal dan moneter, optimalisasi pemanfaatan gas bumi dinilai dapat menurunkan beban subsidi energi dan impor LPG yang selama ini membebani APBN.Kementerian Keuangan mencatat kebutuhan subsidi LPG dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar Rp 453 triliun, sementara devisa impor mencapai Rp 64 triliun per tahun.“Program jaringan gas rumah tangga mampu menekan impor LPG hingga 400.000 metrik ton atau 6,15 persen dan menghemat subsidi sekitar Rp 2,68 triliun,” kata Komaidi.Baca juga: PGAS Bersiap Garap Potensi dari Penemuan Cadangan Gas Terbesar di DuniaGas bumi juga memegang peran sentral dalam kebijakan hilirisasi nasional. Berbagai proyek seperti PIM III, Pusri III, GRR Tuban, Pabrik Methanol Bojonegoro, petrokimia Masela, hingga proyek ammonia dan blue ammonia di Papua Barat diperkirakan membutuhkan gas sekitar 1.078 MMSCFD.ReforMiner menilai manfaat hilirisasi akan lebih optimal apabila bahan baku gas berasal dari produksi domestik. Pada industri petrokimia, multiplier effect penggunaan gas domestik bisa mencapai 5,28 kali, lebih tinggi dibanding gas impor.Dalam bauran energi nasional hingga akhir 2024, porsi gas bumi masih berada pada tingkat 16,69 persen, minyak bumi 29,9 persen, batu bara 39,48 persen, dan energi baru terbarukan 14,1 persen. Dalam Kebijakan Energi Nasional, porsi gas diproyeksikan meningkat menjadi 14,4–15,4 persen pada 2030.Baca juga: Bakal Gantikan LPG pada 2027, Apa Itu Gas DME?


(prf/ega)