BRIN Kirim Drone ke Lokasi Banjir Sumatera, Deteksi Jenazah di Bawah Tanah

2026-02-02 06:35:53
BRIN Kirim Drone ke Lokasi Banjir Sumatera, Deteksi Jenazah di Bawah Tanah
JAKARTA, - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan berbagai dukungan teknologi, salah satunya mengirimkan drone untuk membantu penanganan dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera.Kemampuan drone yang dikirimkan, yakni mampu menjangkau wilayah hingga radius 100 kilometer.Selain itu, BRIN juga menyiapkan drone dengan teknologi ground penetration radar yang dapat mendeteksi objek hingga kedalaman sekitar 100 meter di bawah permukaan tanah."Jadi sekarang kita akan fokus pada rekonstruksi termasuk mengirimkan drone alat-alat yang bisa menjangkau sampai 100 kilometer dan kemudian juga drone ground penetration radar yang bisa mendeteksi benda 100 meter di bawah permukaan tanah, bisa mendeteksi artinya korban jenazah dan lain sebagainya," kata Kepala BRIN Arif Satria dalam konferensi pers usai rapat koordinasi lintas menteri terkait penanganan bencana, dilihat dari Kompas TV, Rabu .Baca juga: Terhalang Tumpukan Kayu, Tim Pendeteksi Mayat dari China Kesulitan Cari Korban Banjir AcehSelain drone, BRIN juga disebut telah menyiapkan dan mendistribusikan data citra satelit kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta sejumlah lembaga terkait, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan lembaga berwenang lainnya.Hal ini tak lepas dari keunggulan BRIN yang memiliki control room atau ruang pengawasan terkait bencana.Arif menjelaskan, fokus BRIN saat ini tidak hanya pada analisis awal dampak bencana, tetapi juga pada penyediaan data dasar yang diperlukan untuk mendukung proses rekonstruksi ke depan."Fokus kami berikutnya adalah bagaimana data-data dasar yang kami miliki dan analisis diperlukan untuk rekonstruksi," ungkapnya.Baca juga: Prabowo Akan Bentuk Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana SumateraDi sisi lain, BRIN juga telah menyalurkan bantuan berupa perangkat arsinum alias air siap minum.Teknologi ini mampu mengolah air banjir dan air berlumpur menjadi air layak minum dengan kapasitas hingga 10.000 liter per hari."Kami sudah mengirimkan arsinum, air siap minum, yang itu bisa mengolah air banjir, air lumpur untuk menjadi air siap minum untuk per hari 10.000 liter. Dan kita siapkan lagi untuk 20.000 liter, kemudian siap mengolah air bersih untuk sampai 100.000 liter. Moga-moga ini sangat bermanfaat untuk pemulihan banjir," kata Arif.Salurkan bantuan Anda untuk korban banjir Sumatera lewat tautan kanal donasi di bawah ini:https://kmp.im/BencanaSumatera


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 06:32