- Nono Suharyono sehari-hari mengajar mata pelajaran PJOK di MI Darul Masholeh, Kabupaten Cirebon. Ia juga membuka jasa laundry dan sering membetulkan telepon seluler jika ada yang membutuhkan.Seolah tak pernah istirahat, usaha keras Nono mendapatkan perhatian banyak orang. Hari Senin, , rumahnya nampak ramai karena kedatangan Wakil Menteri Agama, Romo H.R. Muhammad Syafi’i.Ada apa Wamenag ke rumah Nono?Wamenag Romo Syafi'i yang didampingi istrinya, Maya Suhasni Siregar, memberikan apresiasi langsung kepada Nono. Ia mendapatkan predikat guru inspiratif dalam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Kemenag 2025.Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk apresiasi pemerintah terhadap para pendidik yang teguh mengabdi di garis depan pendidikan madrasah, meski dihadapkan pada berbagai tantangan.Baca juga: Hari Guru Nasional 2025: Ada 7 Program Guru Mulai Tunjangan hingga BeasiswaSebagai Guru Inspiratif, tak pernah terbayangkan oleh pria yang berusia 38 tahun ini. Kado ini ia terima bertepatan menjelang Hari Guru Nasional 2025.Bisa dikatakan, Nono melakukan tiga pekerjaan sekaligus. Menjadi guru, membuka usaha jasa servis telepon seluler, dan usaha laundry rumahan.Di rumahnya yang ada di Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, ia membangun harapan dan semangat setiap harinya.Lulusan S1 Pendidikan Jasmani dari Universitas Majalengka ini sudah delapan tahun terakhir mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan. Kini sudah empat tahun terakhir dihabiskan di MI Darul Masholeh.Baca juga: Pemerintah Teken MoU dengan Kapolri untuk Perlindungan GuruMeski memegang peran vital dalam membentuk kesehatan fisik dan karakter siswa, Nono menyadari bahwa honorarium yang diterimanya, berkisar antara Rp 280.000 hingga Rp 350.000 per bulan, belum mencukupi kebutuhan keluarga sepenuhnya.Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Sepulang mengajar, Nono menjalankan usaha layanan laundry di rumahnya dibantu sang istri. Ia memanfaatkan satu unit mesin cuci dua tabung yang telah lama digunakan dan satu setrika untuk menopang ekonomi keluarga. Selain itu, ia juga sesekali menerima jasa servis telepon seluler.Keteguhan hati Nono sempat teruji oleh keadaan. Ia mengenang satu titik di mana tantangan ekonomi terasa begitu berat, bahkan sekadar untuk mobilitas menuju sekolah."Pernah mau berangkat, tidak ada bensin. Tapi Alhamdulillah, dengan tenaga yang kuat saya keliling mencari, rezeki dari Allah selalu ada," tuturnya mengenang masa-masa sulit tersebut.Baca juga: Kisah Atha, Diterima 21 Kampus Luar Negeri, Raih Beasiswa KedokteranBagi Nono, bertahan menjadi guru di tengah himpitan ekonomi adalah soal tanggung jawab moral. Ia memegang teguh filosofi bahwa pendidikan dasar di tingkat Madrasah Ibtidaiyah adalah fondasi utama pembentukan manusia."Saya menanamkan attitude (sikap) sebagai prioritas utama. Pendidikan dasar adalah fondasi. Jika dasarnya tidak kuat, jenjang berikutnya akan sulit. Hal ini ibarat belajar mengaji yang dimulai dari Iqra; jika dasarnya tidak tepat, proses selanjutnya akan terkendala," jelas Nono.
(prf/ega)
Kisah Nono, Guru Bergaji Rp 350.000, Jadi Guru Inspiratif Kemenag 2025
2026-01-12 04:32:16
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:36
| 2026-01-12 04:17
| 2026-01-12 02:12










































