Jepang, China, dan Ezra Vogel: Dialektika Ketegangan di Selat Taiwan

2026-01-11 03:13:51
Jepang, China, dan Ezra Vogel: Dialektika Ketegangan di Selat Taiwan
HUBUNGAN Jepang dan China kembali berada pada titik kritis. Dalam beberapa bulan terakhir, Asia Timur menyaksikan rentetan peristiwa yang sangat jelas tampak saling terkait satu dengan lainya.Dimulai perubahan kepemimpinan politik di Tokyo, lonjakan signifikan anggaran pertahanan Jepang, pernyataan Sanae Takaichi yang mengaitkan keamanan nasional Jepang dengan nasib Taiwan, persetujuan penjualan senjata Amerika Serikat ke Taipei, sampai pada yang mutakhir latihan militer besar-besaran China di sekitar Selat Taiwan.Di permukaan, peristiwa-peristiwa ini tampak sebagai serangkaian eskalatif yang berurutan. Namun, jika dianalisis secara geopolitik dan historis, runtutan peristiwa ini mencerminkan dialektika panjang antara persepsi ancaman, memori historis, dan dinamika kekuatan di dalam gambar besar geopolitik di Indo-Pasifik.Perubahan sikap Jepang bukanlah loncatan strategis sepihak, tapi respons terhadap apa yang dinilai oleh Tokyo sebagai ancaman militer nyata dari China, baik di Selat Taiwan, Laut China Timur, maupun Laut China Selatan.China sendiri melihat tindakan Jepang sebagai bukti bahwa Tokyo mulai keluar dari zona pasca-pasifisme pascaperang, yakni kembali memainkan peran yang lebih aktif dalam keseimbangan kekuatan regional.Di tengah dinamika ini, Taiwan akan menjadi titik fokus dari sikap saling curiga antara kedua negara di satu sisi dan kompetisi strategis antara dua kekuatan Asia di sisi lain, sementara Amerika Serikat berperan sebagai pendorong sekaligus penguat pergeseran tersebut.Terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang memberi wajah politik yang semakin jelas pada gelombang perubahan ini.Baca juga: Diplomasi Laut Merah: Krisis Baru Pengakuan Israel atas SomalilandNamun, figur pemimpin hanyalah puncak dari perubahan yang jauh lebih dalam dan struktural dalam doktrin keamanan Jepang.Untuk membuat pandangan di dalam uraian ini semakin tajam, baik secara historis maupun geopolitik, sudut pandang dari Ezra Vogel, terutama tentang konsep asimetri psikologis dalam relasi Jepang–China, akan cukup baik dijadikan sebagai kerangka analitis.Persepsi ancaman yang dirasakan oleh Jepang terhadap China tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi hasil dari akumulasi pengalaman strategis dalam lebih dari satu dekade.Tokyo telah menyaksikan peningkatan kehadiran militer China di sekitar Kepulauan Senkaku/Diaoyu, intensifikasi latihan militer di sekitar Taiwan, serta dominasi China di laut China Selatan yang memberi sinyal strategis, tapi negatif pada jalur komunikasi maritim vital bagi Jepang.Dalam konteks tersebut, kebijakan pertahanan Jepang secara bertahap berubah dari semata-mata defensif menjadi lebih proaktif.Salah satu indikator paling nyata dari perubahan ini adalah kenaikan anggaran pertahanan Jepang.Pemerintah Jepang baru saja menyetujui anggaran pertahanan yang memecah rekor untuk tahun fiskal 2026 sebesar sekitar 9,04 triliun yen, meningkat sekitar 9,4 persen dari tahun sebelumnya.Anggaran ini merupakan bagian dari program lima tahunan senilai total 43 triliun yen yang bertujuan menggandakan belanja pertahanan hingga mencapai sekitar 2 persen dari Produk Domestik Bruto Jepang, lebih cepat dua tahun dari rencana semula.


(prf/ega)