SALATIGA, - Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera masih menyisakan kepedihan mendalam.Begitu juga dengan sanak keluarga yang hidup di perantauan dan mencari kabar kondisi keluarganya. Akhir tahun ini bagi Lasran Dryan (20) menjadi tahun terberat.Pada Rabu pagi tersiar kabar mengenai banjir bandang dan longsor yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Lasran yang sedang menempuh studi Teologi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga cepat-cepat mencari informasi kondisi terkini kampung halamannya yang berada di Desa Sibalanga, Kecamatan Aden Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara, melalui media sosialnya."Saya buka Facebook dan lihat tetangga memposting video banjir bandang di Sibalanga, desa saya. Saya langsung menghubungi keluarga, termasuk ayah ibu, tapi tidak bisa dihubungi. Saat banjir bandang, jaringan masih ada sedikit sehingga tetangga bisa posting, tapi setelah itu lumpuh total," ujarnya saat dihubungi kompas.com pada Selasa .Baca juga: Libur Natal 2025, Pantai Slopeng Mulai Ramai meski Tak seperti DuluSelama dua hari Lasran merasakan gusar karena tak kunjung mendapatkan kabar kondisi keluarganya, hingga pada hari Jumat sesaat masih menjalani perkuliahan, tiba-tiba bapaknya meneleponnya."Di sini semua keluarga aman, tapi ada korban jiwa. Stok makanan mulai habis. Doakan Bapak, Mamak, dan keluarga supaya kuat," ujar bapak Lasran yang menelepon kurang dari dua menit.Selanjutnya, pada Senin Lasran mendapatkan kabar bahwa di desanya mendapatkan bantuan internet Starlink sehingga mendapatkan kabar kondisi kampung halamannya secara bertahap."Dua hari pertama saya lemas banget, Mas. Tidak nafsu makan, sempat sakit. Saat itu ada ujian, tapi kurang semangat. Setelah dapat jaringan lagi sekitar 5 Desember, saya telepon Mama tanya kondisi. Mama suruh tanya Bapak. Bapak bilang, 'Pulang saja, bisa bantu-bantu di sini.' Akhirnya, tanggal 14 Desember saya naik pesawat dari Salatiga ke Jakarta, lalu ke sini tanggal 15 sore," ujarnya.Baca juga: Ibadah Natal dan Arus Wisata, One Way Diberlakukan di Puncak Bogor Pagi IniLasran menceritakan kondisi di Desa Sibalanga mendapatkan dampak yang lumayan parah dengan 21 korban dan lumpuhnya perekonomian masyarakat."Perekonomian masyarakat lumpuh total, karena kebanyakan petani karet, cabai, dan padi. Saat banjir dan longsor semua habis, Mas. Akses jalan utama terputus dan harus memutar berjam-jam, terutama dua hari pertama saat jaringan dan listrik lumpuh total—tidak ada yang bisa dihubungi," ujarnya./Fatah Akrom Hiasan Natal nampak menghiasi gerbang depan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang beralamat di Jl. Diponegoro No.52-60, Salatiga, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga. Pada Selasa (Fatah Akrom/)Lasran menyampaikan bahwa Natal tahun ini tidak dirayakan meriah seperti biasanya, sederhana dengan sisa-sisa harapan."Masyarakat di sini tidak begitu antusias lagi menyambut Natal. Bagaimana bisa bahagia, sedangkan banyak saudara rumahnya hancur, kehilangan keluarga? Natal di sini terganggu total. Tanggal 24-25 Desember, semua digabung jadi satu," ujarnya.Lasran berpesan kepada teman-temannya yang belum bisa pulang agar selalu yakin bahwa semua akan pulih.
(prf/ega)
Natal Sederhana di Tengah Luka: Kesaksian Korban Banjir Bandang di Tapanuli Utara
2026-01-11 03:30:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:03
| 2026-01-11 02:22
| 2026-01-11 01:58
| 2026-01-11 01:55










































