Dendam Berujung Tewasnya Bocah Alvaro Kiano Nugroho

2026-01-15 01:05:59
Dendam Berujung Tewasnya Bocah Alvaro Kiano Nugroho
Jakarta - Polres Metro Jakarta Selatan menetapkan Alex Iskandar (AI), ayah tiri Alvaro Kiano Nugroho (6), sebagai tersangka kasus penculikan dan pembunuhan bocah yang hilang sejak Maret 2025 tersebut.Penetapan tersangka ini dilakukan setelah proses penyelidikan selama delapan bulan dan analisis rekam digital.Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan penyidik menemukan sejumlah petunjuk yang mengarah pada Alex sebagai pelaku.Advertisement"Adanya dugaan keterkaitan hilangnya ananda AKN (Alvaro Kiano Nugroho) yang diidentifikasi dilakukan oleh saudara AI,” ujar Budi dalam konferensi pers, Senin .Polisi juga menemukan percakapan digital di ponsel Alex yang berisi kalimat bernuansa kemarahan dan dendam.“Dari handphone yang diamankan, terlapor secara terang-terangan menuliskan kalimat ‘gimana caranya gue balas dendam’. Ini muncul berulang kali dalam konteks kemarahan,” katanya.Alex kemudian mengakui menculik Alvaro dari Masjid Jami Al-Muflihun di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Menurut penyidik, korban menangis sepanjang perjalanan hingga pelaku membekap mulut Alvaro.“Pada saat korban dibawa, dalam kondisi menangis yang tidak berhenti, sehingga dibekap hingga meninggal dunia,” ucap Budi.Setelah memastikan korban meninggal, Alex membungkus tubuh Alvaro dengan plastik hitam dan membuangnya di bawah Jembatan Cilalay, Desa Singabraja, Kabupaten Bogor pada 9 Maret 2025, tiga hari setelah Alvaro dilaporkan hilang. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 23:52