Tengkar dengan Keluarga Berujung Hanyut di Laut, 2 Temannya Ikut Terseret Arus

2026-01-14 17:48:14
Tengkar dengan Keluarga Berujung Hanyut di Laut, 2 Temannya Ikut Terseret Arus
HANOI, - Tiga pria berhasil ditemukan selamat setelah hanyut selama lebih dari 40 jam di laut akibat Topan Kalmaegi yang melanda Vietnam pekan lalu.Operasi penyelamatan dilakukan pada Sabtu di perairan tengah Vietnam melalui koordinasi tiga kapal penyelamat.Ketiganya ditemukan secara terpisah setelah sempat terbawa arus dan hilang sejak Kamis .Baca juga: Jamaika Porak-poranda Dihantam Badai Melissa, Terkuat di Dunia dalam 90 TahunSalah satu korban, Duong Quang Cuong (44), melompat ke laut usai terlibat pertengkaran dengan anggota keluarganya.Dua rekannya, Le Quang Sanh dan Pham Duy Quang, berusaha menyelamatkan Cuong dengan menggunakan perahu kecil dan mengenakan jaket pelampung.Namun nahas, perahu yang mereka gunakan terbalik. Ketiganya pun hanyut dan sempat terpisah satu sama lain selama dua hari di tengah laut.Korban pertama yang ditemukan adalah Pham Duy Quang. Ia diselamatkan oleh kapal penyelamat Hai Nam 39 pada Sabtu pagi, di sebelah selatan Pulau Ly Son, titik awal keberangkatan mereka.SHUTTERSTOCK/Dudarev Mikhail Ilustrasi tenggelam. “Kami benar-benar terkejut, rasanya seperti keajaiban. Tak seorang pun dari kami mengira dia masih hidup,” ujar Kapten kapal Hai Nam 39, Phan Hau (40), kepada AFP.“Sebagian besar dari kami mengira hanya akan menemukan jasadnya, bukan orang yang masih bernapas,” lanjut dia.Setelah penyelamatan tersebut, otoritas pelabuhan mengerahkan kapal penyelamat kedua, An Vinh Express. Sekitar dua jam kemudian, tim penyelamat berhasil menemukan Le Quang Sanh yang terlihat hanyut di laut dengan mengenakan kemeja hitam.“Awalnya kami tidak sadar itu dia. Kami mencari benda berwarna merah karena mengira dia masih mengenakan jaket pelampung. Ternyata rompinya sudah dia lepas,” jelas Hau.Baca juga: Tetangga RI Diterjang Badai Mirip Tornado, 13 Orang Luka dan Puluhan Rumah RusakMenurut Hau, Sanh melepas rompi pelampungnya untuk melambai ke kapal yang lewat, tetapi rompi tersebut tersapu ombak. Ketika ditemukan, ia masih dalam keadaan sadar, meski tampak linglung.“Dia sempat bertanya, ‘Mengapa kalian mencariku? Aku hanya berenang,’” ucap Hau menirukan.Sementara itu, Duong Quang Cuong, pria yang pertama kali melompat ke laut, ditemukan oleh kapal penyelamat ketiga yang beroperasi lebih dekat ke Pulau Ly Son.Ketiganya segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Hingga Senin , belum ada informasi resmi terkait kondisi medis mereka.Istri Quang, Tran Thi Lau (45), mengatakan bahwa kondisi suaminya mulai membaik. “Kesehatan Quang berangsur stabil. Semua orang di seluruh Vietnam sangat gembira,” ucapnya kepada AFP.“Kebahagiaan saya luar biasa. Tapi kondisinya belum sepenuhnya stabil, jadi kami belum tahu kapan dia bisa pulang dari rumah sakit,” tambahnya.Topan Kalmaegi menghantam wilayah tengah Vietnam pada Kamis dan menewaskan sedikitnya lima orang.Sebelumnya, badai tersebut juga menyebabkan kerusakan besar di Filipina, dengan jumlah korban meninggal lebih dari 200 orang.Baca juga: Topan Ragasa Mereda, Warga China Kerja Bakti Bersihkan Sisa Badai


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 17:14