Migrasi, Ilusi, dan Pilihan untuk Bertahan

2026-01-12 03:12:31
Migrasi, Ilusi, dan Pilihan untuk Bertahan
PADA November 2025, Kompas melaporkan lebih dari 46.000 warga Selandia Baru meninggalkan negaranya dalam satu tahun terakhir. Bukan karena perang atau bencana, melainkan karena stagnasi ekonomi dan pasar kerja menyempit.Ini bukan cerita tentang negara gagal, melainkan tentang manusia yang mencari ruang untuk tumbuh.Fenomena ini menunjukkan bahwa migrasi bukanlah gejala eksklusif negara berkembang. Ia adalah bagian dari dinamika global pasca-pandemi yang disebut The Great Re-Resignation—momen ketika orang-orang mulai bertanya: “Apakah hidup saya hanya tentang bertahan di pekerjaan yang tidak lagi memberi harapan?”Di Indonesia, keresahan serupa menjelma dalam tagar #KaburAjaDulu. Ia bukan sekadar candaan digital, melainkan cermin dari frustrasi kolektif. Banyak anak muda merasa terjebak dalam sistem yang tidak memberi ruang untuk berkembang.Sayangnya, respons dari sebagian elite justru memperkuat rasa putus asa itu. Alih-alih mendengar, mereka menyalahkan. Alih-alih memahami, mereka menuduh generasi muda sebagai tidak nasionalis.Namun, narasi “kabur” ini sering kali berdiri di atas tiga ilusi logika yang perlu kita bongkar bersama:Pertama, generalisasi terburu-buru: menyamakan migrasi dengan kegagalan total negara. Padahal, negara maju pun mengalami eksodus.Kedua, dilema palsu: seolah hanya ada dua pilihan—bertahan dan menderita, atau kabur dan sukses.Ketiga, rayuan emosional dan efek ikut-ikutan: media sosial membanjiri kita dengan kisah sukses migrasi yang telah dikurasi, membuat kita lupa bahwa realitas jauh lebih kompleks.Baca juga: Vietnam dan Jalan Keluar dari Perangkap MetrikUntuk memahami mengapa jebakan ini begitu menggoda, kita perlu masuk ke ranah psikologi kognitif. Salah satu konsep penting di sini adalah availability heuristic.Bayangkan kita sedang memilih restoran. Kita tidak membaca semua ulasan, tapi langsung memilih yang pernah kita lihat di Instagram karena fotonya menggoda.Otak kita cenderung mengambil keputusan berdasarkan informasi yang paling mudah diingat, bukan yang paling akurat.Dalam konteks migrasi, cerita sukses yang viral membuat kita percaya bahwa peluang sukses di luar negeri pasti tinggi, meski kenyataannya tidak sesederhana itu.Konsep lain yang penting adalah deprivasi relatif. Ini bukan tentang miskin secara absolut, tapi tentang merasa tertinggal dibanding orang lain.Ibarat kita punya motor yang cukup bagus, tapi teman-teman kita sudah naik mobil. Kita tidak miskin, tapi merasa kalah.


(prf/ega)