Kepala Basarnas: Korban Bencana Sumatera Mencapai 33.620 Orang, 447 di antaranya Meninggal Dunia

2026-02-02 14:20:21
Kepala Basarnas: Korban Bencana Sumatera Mencapai 33.620 Orang, 447 di antaranya Meninggal Dunia
JAKARTA, - Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkap sekitar 33.620 orang menjadi korban dalam bencana banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Pulau Sumatera.Sebanyak 447 jiwa dilaporkan meninggal dunia berdasarkan data Basarnas per Senin sore hari ini."Kami laporkan bahwa jumlah warga terdampak dari bencana yang ada di Aceh, Sumatera Barat, dan juga Sumatera Utara mencapai 33.620," kata Syafii dalam rapat Komisi V DPR RI, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin sore.Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Banjir Sumatera: Curah Hujan Bulanan Tumpah dalam Satu HariAdapun jumlah korban masih dapat bertambah, lantaran hingga kini masih ada ratusan korban yang hilang dan belum ditemukan."Di mana dari jumlah yang terdampak kami telah mengevakuasi 447 jiwa dalam kondisi meninggal dan yang terlaporkan masih dalam pencarian 399 jiwa," imbuh dia.Dari data Basarnas, Syafii mengatakan ada 33.173 orang yang selamat dari bencana hidrometeorologi."Untuk jumlah korban selamat yang dievakuasi oleh Badan Sar Nasional dan juga seluruh potensi SAR yang terdata ada 33.173," ujar Syafii.Lebih lanjut, Basarnas merinci jumlah korban yang telah dievakuasi hingga saat ini.Di provinsi Aceh, ada 102 jiwa tewas, 116 jiwa masih hilang, dan 1.044 jiwa selamat.Di provinsi Sumatera Utara ada 217 jiwa meninggal dunia, 168 korban hilang, dan 3.029 orang terdampak."Kami sampaikan di Sumatera Utara 3.029 warga terdampak di mana kami telah mengevakuasi 217 meninggal dunia dan dilaporkan 168 dalam pencarian," ucap Syafii.Di Sumatera Barat, ada 128 jiwa meninggal dunia, 115 jiwa dalam pencarian atau masih hilang."Jumlah warga yang terdampak ada 29.445 di mana kami telah mengevakuasi 128 dalam kondisi meninggal dan dilaporkan 115 masih belum ditemukan," imbuhnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 12:08