Konser Dewa 19 Dilarang di Lhokseumawe, 1.000 Pembeli Tiket Gelisah: Jadi atau Tidak?

2026-02-03 15:55:17
Konser Dewa 19 Dilarang di Lhokseumawe, 1.000 Pembeli Tiket Gelisah: Jadi atau Tidak?
LHOKSEUMAWE, -  Sejumlah pembeli tiket konser Dewa 19 mengaku kecewa atas dilarangnya konser yang rencananya digelar di Stadion Perta Arun Gas (PAG), Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, pada 29 November 2025 mendatang.Seperti diketahui, Pemkot Lhokseumawe melarang konser tersebut karena dinilai berpotensi melanggar syariat Islam. Padahal, 1.000 tiket sudah terjual.Calon penonton gelisah karena belum ada penjelasan resmi dari pihak penyelenggara acara, EO Melofest, apakah konser jadi digelar atau tidak.Baca juga: Pemkot Lhokseumawe Larang Konser, Aksi Dewa 19 Terancam Batal, 1.000 Tiket Sudah Terjual“Saya lihat akun resmi EO @melofest.id masih aktif dan bahkan masih memposting promosi konser itu. Jadi mana yang benar? Apakah konsernya jadi atau tidak? Kami berharap EO memberi kepastian,” ujar M Zaid Muqrim, pembeli tiket asal Kabupaten Bireuen, saat dihubungi melalui telepon, Kamis .Zaid menyebutkan, kepastian tersebut penting agar penonton yang sudah membeli tiket bisa mengambil langkah selanjutnya.“Kalau sudah jelas tidak jadi atau batal konser, maka kami minta pengembalian biaya tiket,” katanya.Hal serupa disampaikan oleh Hairani, pembeli tiket asal Kabupaten Aceh Utara.“Belum tentu tidak jadi juga kan, karena EO masih aktif mempromosikan acara. Kalau saya, bagaimana kata ulama dan umara saja, ikut saja saya,” ujarnya.Saat dihubungi terpisah, pihak EO Melofest menyebutkan bahwa mereka juga masih menunggu keputusan dari pimpinan perusahaan lokal di bawah CV Omar Jaya.“Saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya juga sedang menunggu kejelasan. Silakan kirim pesan melalui Instagram Melofest,” kata perwakilan EO tersebut, Kamis.Hingga berita ini ditayangkan, pesan yang dikirimkan ke akun Instagram EO Melofest dan CV Omar Jaya belum mendapat balasan.Nasib sekitar 1.000 tiket yang telah terjual pun masih belum jelas.Kompas.com juga telah berupaya mengonfirmasi pembatalan konser ini kepada akun resmi @officialdewa19, namun hingga kini belum mendapat jawaban.Sebelumnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe memutuskan untuk melarang konser Dewa 19 setelah Wali Kota Sayuti Abubakar dan Wakil Wali Kota Husaini menemui Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe, Tgk Abubakar Ismail, Rabu .“Konser perlu dicegah karena dinilai berpotensi menimbulkan pelanggaran terhadap syariat Islam,” ujar Sayuti dalam keterangan tertulisnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 15:50