Pemilu Myanmar Berlangsung di Tengah Perang Saudara, Apa yang Perlu Diketahui?

2026-01-11 22:12:59
Pemilu Myanmar Berlangsung di Tengah Perang Saudara, Apa yang Perlu Diketahui?
YANGON, - Myanmar menggelar pemilu pertama sejak penggulingan pemerintahan Aung San Suu Kyi, hari ini, Minggu .Namun, pemilu ini berlangsung di tengah perang saudara, dengan kelompok-kelompok bersenjata etnis dan milisi oposisi bertempur melawan militer untuk menguasai wilayah.Kendati demikian, pemilu kali ini menuai kecaman karena dianggap sebagai upaya untuk melegitimasi pemerintahan militer yang membatalkan pemilihan sebelumnya.Lantas, apa yang perlu diketahui dari pemilu Myanmar kali ini?Baca juga: Myanmar Gelar Pemilu Perdana dalam 5 Tahun Kudeta, Tak Ada OposisiDikutip dari Straits Times, Minggu, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (Union Solidarity and Development Party) yang pro-militer adalah peserta terbesar.Menurut Asian Network for Free Elections (Anfrel), partai itu menyumbangkan lebih dari seperlima dari total kandidat.Mantan pemimpin demokrasi, Aung San Suu Kyi dan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang meraih kemenangan telak dalam pemilu terakhir, tidak ikut serta.Liga Nasional untuk Demokrasi dan sebagian besar partai yang ikut serta dalam pemilu 2020 telah dibubarkan.Pemilu Myanmar hari juga bakal berlangsung dalam tiga fase dalam sebulan, dengan metode pemungutan suara elektronik.Baca juga: Pemilu Myanmar Disebut Palsu, PBB Ungkap Junta Ancam Warga Berikan SuaraPerang saudara yang terjadi selama bertahun-tahun membuat pemerintah kehilangan sebagian besar wilayahnya.Pemungutan suara kali ini tidak akan digelar di wilayah yang dikuasai oleh pasukan pemberontak.Sensus yang dilakukan oleh militer pada 2024 menunjukkan, mereka tidak dapat mengumpulkan data sekitar 19 juta dari 50 juta lebih penduduk Myanmar, dengan alasan keamanan.Pihak berwenang juga telah membatalkan pemungutan suara di 65 dari 330 kursi terpilih di Dewan Perwakilan Rakyat atau hampir satu dari lima kursi secara keseluruhan.Lebih dari satu juta pengungsi Rohingya juga tidak akan ikut dalam pemilu.Baca juga: Warga yang Menentang Militer Diancam, Kekerasan dan Intimidasi Naik Jelang Pemilu MyanmarNantinya, kursi di parlemen akan dialokasikan berdasarkan sistem gabungan mayoritas sederhana (first-past-the-post) dan perwakilan proporsional.


(prf/ega)